Kaligrafi Dekorasi

Sabtu, 16 April 2011

Didin Sirajuddin AR

Didin Sirajuddin AR

Didin Sirojuddin Abdul Rozaq lahir di desa Karangtawang, Kuningan, Jawa Barat, 15 Juli 1957. Ayahnya, H. Abdur Rahman adalah mantri kesehatan di RSU ’45 Kuningan, yang karena perjuangannya di desa, terpilih menjadi kepala desa (Kuwu) Karangtawang selama 11 tahun (1968-1979). Ayahnya H. Abdur Rahman, Surawidjaya juga kepala desa di daerah pegunungan Cipakem selama 30 tahun. Selain mendirikan Pondok Pesantren Al-Abshori, H. Abdur Rahman juga termasuk pelopor berdirinya Madrasah Tsanawiyah Karangtawang bersama guru kesayangannya Kyai Abdullah. Ibunya, Hj. Sukrinah, datang dari keluarga pesantren tua dan terbesar di Kabupaten Kuningan, yaitu Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin pimpian KH. Uci Syarifuddin di desa Lengkong bersebelahan desa Karangtawang. Perintis pesantren ini, Hasan Maolani, yang dikenal dengan sebutan eyang Minado, adalah waliyullah pejuang kemerdekaan RI yang dibuang Belanda ke Manado dan berjumpa dengan Pangeran Diponegoro di pembuangan sekitar tahun 1830-an.

Sejak sebelum SD, Didin sudah melukis, biasanya dengan mencoreti apa saja termasuk dinding rumah dengan arang dapur. Ia juga memanfaatkan arang kuali dan blendok lampu untuk menulis halus dengan pena kodok yang ditancap ke gagang kalam. Menurut guru SD-nya, E. Sarip, bakat melukis Didin menurun dari ibunya yang juga sealumni dengan Sarip di SD yang sama tahun 1940-an. Kakek Didin dari ibunya, yaitu Ahmad Sadili yang dipanggil Mbah Pio karena kecilnya Ahmad Supio, adalah tukang kayu kreatif yang pandai mengukir pintu dan jendela rumah.

Yang lebih aneh lagi, sembilan saudaranya bisa menggambar walaupun mereka tidak diajari oleh Didin. Ia juga tidak mengajari mereka menulis khat (kaligrafi). Tetapi agaknya sebagian adik-adiknya itu mengikuti saja apa yang dilakukan kakaknya dalam melukis dan menulis kaligrafi.

Lazimnya orang mabuk, hari-hari selama di SD (sebelumnya Sekolah Rakyat/SR) Didin disibukkan oleh kerja menggambar. Padahal sore hari harus belajar di Madrasah Diniyah. Usai sholat Maghrib mengaji al-Qur’an dan kitab kuning kepada ayahnya yang guru ngaji di kampungnya. Pada malam-malam tertentu, ikut pendalaman kitab di Kyai Muhyiddin, Lengkong. Setiap Ahad, bersama beberapa kawannya belajar tilawah (lagu al-Qur’an) di Kyai Jemod di desa Ciporang, edngan berjalan kaki sepanjang 6 km.

Gambar manusia dipelajarinya juga dari komik-komik. Ia terkesan buku komik Gibraltar karya Alyson SR dari Surabaya dan komik-komik tentang kebiadaban orang-orang PKI di tahun 1960-an. Komik-komik wayang karya R. Kosasih sudah dibacanya juga waktu itu. Semuanya ditiru habis dengan menggunakan pena kodok dan tinta hitam dari arang kuali. Tapi gurunya di bidang gambar manusia ini, seperti diakuinya adalah Empud Mahfud, guru agamanya, dan Fuad Fauzi, kawannya dari Bogor saat nyantri di Pondok Modern Gontor. Kemahirannya menggambar peta dipelajarinya dari sebuah peta tua susunan R. Boss yang ditemukan ayahnya si selipan kitab-kitab kuning di lemari bukunya.

Didin tidak terlalu prestisius. Ia hanya pernah dapat hadiah uang untuk beberapa gambar orang sholat di sekolahnya yang dibelikannya seekor kambing. Hobinya yang susah dibendung ini hanya menyisakan rasa senang pada mata pelajaran sejarah dan mengarang, dan setengah benci pelajaran berhitung. Bahkan ketika menyangkut angka-angka perhitungan hasil usaha pun, ia tidak tertarik karena katanya:“Cuma ngitung uang siluman.” Didin juga berterus terang: “Dari 20 soal berhitung, kadang-kadang dua yang betul. Sisanya yang salah, tolonglah dijumlahkan ada berapa?” Saat nyantri di Gontor, ia juga sering dapat nilai satu untuk pelajaran ilmu hisab (aritmatika). Rupanya angka itu dianggapnya “angka juara” karena Didin selalu ingin menjadi pelopor di bidang yang digelutinya. Di desa Karangtawang tahun 1960-an, mungkin hanya ada tiga anak muda yang pandai menggambar. Selain Didin sendiri, dua lainnya adalah Uung masyhuri dan Yano Suharyono anak kepala SD Karangtawang Ehon Sahar. Tapi Didin sangat dikenal sebagai pelukis di kalangan guru-guru dan kawan-kawannya saat itu. Hanya soal tulisan Arab, meskipun goresannya bagus, Didin belum tahu sama sekali prinsip-prinsip kaligrafi yang benar yang saat itu memang belum populer.

***

Didin seharusnya termasuk murid angkatan pertama di Madrasah Tsanawiyah yang dirintis ayahnya. Ayahnya justru berkampanye masuk sekolah itu, tapi anaknya malah diarahkan untuk nyantri ke Pondok Modern Gontor, Jawa Timur tahun 1969. Tetapi di pesantren modern pimpinan KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi saat itu, Didin benar-benar menemukan dunianya. Pesantren yang menerapkan disiplin ketat ini sarat aneka kegiatan seni san pelajaran khat termasuk kurikulum wajib di kelas. Segera saja bakatnya tumbuh. Buku-bukunya penuh coretan gambar dan kaligrafi. Kesan pertama yang dirasakannya adalah ketika tahun 1972 saat duduk di kelas tiga (setingkat Tsanawiyah), ia termasuk tim penulis siswa dengan menggunakan angka-angka Arab. Suatu kehormatan tiada tara. Suatu hari KH. Imam Zarkasyi muncul dan mendekati Didin. “Sirojuddin, la, la, la. Labud an yakuna hakkaza.” Pak Zar memberi isyarat sambil membetulkan posisi tangan Didin.”Itu adalah do’a dan kelak saya merasakan hasilnya,” kata Didin. Melukis dan menulis kaligrafi. Hanya itu yang jadi kegiatan idola Didin di pesantren, membuat para guru dan kawan-kawan mengenalnya. Seorang kawan dari Jakarta bernama Fajar Prana meledeknya: “Hadza huwa brufisur khat.” Itu juga do’a kata Didin.

Tidak puas dengan yang ada, Didin mulai terlibat kegiatan-kegiatan kepanitiaan, pasti kebagian seksi dekorasi. Pernah menangani lima majalah dinding Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sekaligus. Warung dapur dan kafetaria pesantren pun dicoretinya dengan lukisan dan kaligrafinya. Puncaknya tahun 1974, ketika ia mendirikan Sakisda (Sanggar Pelukis Darussalam) dan majalah dinding pertama berbahasa Indonesia bernama Inspirasi Budaya. Karena komik madingnya “Kecelakaan di Dapur Kita” yang mengeritik kekumuhan dapur santri, ia sempat diadili oleh ustadz Zaini Muhayat. Dalam nota pembebasannya disebutkan : Itu adalah karya seni.

Empat tahun belajar khat Naskhi dan Riq’ah di Gontor. Dua tahun sisanya untuk pendalaman yang dirasanya tidak memuaskan, karena saat itu hanya ada satu buku panduan kaligrafi karya Abdul Karim Husain dari Kendal berjudul “Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab.” Buku lainnya adalah tulisan Indah karangan N. Abdul Razaq Muhili yang ditulisnya tahun 1961, itu pun sudah tidak terbit lagi.

Sentimen ketidakpuasan Didin tambah tersulut. Ini yang mendorongnya, di tahun 1975 menjelang akhir studinya di Gontor, bermimpi sekiranya suatu saat mengarang buku-buku kaligrafi dan mendirikan suatu wadah untuk mengembangkan kaligrafi di Tanah Air. Namun, cita-cita itu barulah terwujud 10 tahun kemudian dengan didirikannya Lemka.

Dua tahun menjelang tahun 1975, Didin semakin mengintensifkan kreasinya. Melengkapi kepiawaiannya menggambar pemandangan, luksian anatomi manusia diperdalamnya dari Fuad Fauzi, kawannya dari Bogor. Sedangkan Abdul Kholiq La-Vera dari Surabaya mengajarinya ilmu dekorasi, vignette dan seni letter.

Teknik rupa diperdalamnya sendiri secara seadanya dari poster-poster film lukisan Harry yang ngetrend waktu itu dan cover majalah. Poster raksasanya “Tears of a Criminal” digunakan iklan dalam bahasa Inggris kelas enam hasil sutradara Ya’kub Bukhari dari Jakarta. Poster itu dibuat Didin dengan water colour.

Selain menghabiskan banyak kertas untuk latihan huruf dan lukisan, telunjuknya digores-goreskan ke atas sajadah saat menanti adzan maghrib di masjid pesantren. Didin membayangkan seakan sedang latihan menulis. Ternyata, ulahnya itu adalah teori pendalaman huruf dengan cara membayangkan huruf-huruf itu sendiri seperti dikemukakan oleh pembina kaligrafi Mesir Fauzi Salim Afifi, yang baru dikenal Didin dari bukunya Silsilatu Ta’lim al-Khat al-‘Arabi”Dalil al-Mua’allim yang dibacanya tahun 1995, dua puluh tahun sesudah peristiwa corat-coret fiktif tersebut. Khattat besar Hasyim Muhammad yang populer dengan bukunya Qawaid al-Khat al-‘Arabi pun pernah berlatih menulis ribuan basmalah di pasir pantai dengan telunjuknya. Bila tersapu air, diulang lagi tulisaanya itu, sampai hilang kembali diterpa ombak pantai.

Mungkin sudah suratan takdir, ketika Didin tidak dikabulkan ayahnya masuk ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) di Yogyakarta. Mungkin ayah takut saya jadi murtad,” komentar Didin tentang ayahnya yang selalu berhati-hati itu. Tapi lagi-lagi kegagalannya itu menjadi gerbang keberuntungannya di kemudian hari.

Ketika tahun 1976 akhir masuk kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lagi-lagi Didin menemukan yang dicarinya. Di luar jadwal kuliah, ia bergabung dengan Sanggar Garajas di Bulungan, Jakarta Selatan, selama setahun setengah (1976-1978), untuk memperdalam lukisan. Di sanggar itu dijumpainya ilustrator terkenal Si Jon dan Dimazprass, dan dilihatnya kegiatan-kegiatan seni yang lain seperti seni akting, tari dan baca puisi.

“Jakarta adalah guru. Di Jakarta juga ada segalanya,” kata Didin. Ia sering berlama-lama nongkrong di loakan buku Senen, Rivoli, Tanah Abang atau Pasar Rumput dan Taman Ismail Marzuki dan mendatangi tempat-tempat pameran seperti Balai Budaya, Mitra Budaya, Erasmus Huis, dan Pasar seni ancol. Pameran di hotel-hotel pun diburunya. Diikutinya pula acara-acara baca puisi dan pergelaran drama. Bahkan film-film kolosal bernuansa sejarah di layar-layar tancap misbar alias gerimis bubar dan bioskop-bioskop seputar Ciputat pun ditontonnya. Kebiasaannya membaca komik kumat lagi setelah berada di Jakarta. Sebab, selama 6 tahun di Gontor kesempatan itu sangat langka kecuali dengan mencuri-curi atau hanya membaca komik-komik petualangan Garth atau detektif John Prentice yang dipampang berseri di koran berlangganan pesantren. Komik-komik silat karya Ganes TH, Jiar, Yan Mintaraga, Teguh Santosa dan Man dibongkarnya kembali dari Pasar Senen. Hasil bacaannya jadi bekal pembuatan serial komik keagamaan dan ilustrasi cerpen majalah Panji Masyarakat pimpinan Hamka. Sejak kuliah tahun 1976, Didin bekerja sebagai ilustrator majalah itu, lalu beralih menjadi editor Pustaka Panjimas sampai tahun 1982.

Hobi mengarang dan baca-baca buku cerita, petualangan dan humor di samping buku-buku keagamaan menghasilkan cerpen-cerpen dan karangan ilmiah dan laporan peliputan selama menjadi wartawan Panji Masyarakat (1982-1989). Ia sangat gembira ketika cerpen pertamanya Memilih Raja dan Air Telaga Phrigia yang diterjemahkannya dari Baucis and Philemon dalam buku History of the Greek dimuat majalah anak-anak Kawanku tahun 1977 dan 1981, bahkan yang disebut kedua ini jadi judul utama yang dipampang di sampul mukanya. Artikel tentang kaligrafi sendiri baru ditulisnya di Panji Masyarakat tahun 1983 dengan judul Dari Al-Aqlam Al-Sittah Hingga Lukisan Kaligrafi. Sejak itu meluncur artikel-artikel kaligrafi yang lain.

Selama menjadi mahasiswa (1976-1982), Didin hanya memendam keinginan yang dicita-citakannya. Di Jakarta hanya ada beberapa khattat. Selain sulit dihubungi, mereka juga tidak mudah diajak berserikat membentuk organisasi. Namun saat tersebut adalah masa-masa subur bagi Didin untuk menulis kaligrafi buku di beberapa penerbit di Jakarta. Ia memperoleh cukup uang sehingga berkesempatan membeli banyak buku. Uang juga banyak diperoleh dari menulis kaligrafi di masjid, membuat ilustrasi dan komik, selain cerpen dan artikel. Didin hampir-hampir bekerja sebagai khattat di Penerbit Bulan Bintang, Jakarta dan PT. Al-Maarif, Bandung. Namun keduanya urung diambil, karena masih aktif kuliah. Masih pingin bebas.

Didin juga sempat menikmati kegagalan dalam Sayembara Kaligrafi di MTQ Nasional XII tahun 1981 di Banda Aceh. Namun ia menebusnya dengan untuk pertama kalinya menjadi Dewan Hakim Sayembara Kaligrafi MTq Nasional XIII tahun 1983 di Padang. Di sini ia lebih jauh berkenalan dengan K.H.M. Abdul Razaq Muhili, penulis kaligrafi buku profesional, dan Prof. H.M. Salim Fachry penulis Al-Qur’an Pusaka Indonesia atas titah Presiden Soekarno, yang bertugas sebagai Dewan Hakim dan diakuinya sebagai guru. Saat itulah semenjak di pesawat menuju Padang hingga arena MTQ, Didin tidak henti-hentinya menyampaikan gagasannya untuk membentuk wadah pengembangan kaligrafi. Menanggapi gagasannya itu, Salim Fachry menyambut agak kaget: “Itu sebenarnya yang sejak dulu saya cita-citakan, sejak saya belajar kaligrafi di Mesir. Namun saya tidak punya kader.” Didin dianggapnya sebagai kader yang selama ini dicari-cari.

Dewan Hakim lainnya di MTq tersebut adalah C. Israr, seorang penulis seni Islam, dan H.M. Bachtiar, dosen IAIN Padang yang turut mendorong rencana Didin.

***

Selesai kuliah tahun 1982, Didin sampai ke puncak kegelisahannya. Setahun kemudian (1983), ia diminta mengajar kaligrafi di Fakultas Adab eks almamaternya. Kehormatan itu dilihatnya sebagai peluang, tapi masih kesulitan harus memulai dari mana. Akhirnya, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) diproklamirkan 20 Juli 1985 dan komponen pengurusnya diambil langsung dari para mahasiswa semester II yang diasuhnya. “Semuanya serba baru dan darurat. Tidak ada referensi apapun,” kata Didin. Saat itu pembinaan kaligrafi di Indonesia berjalan alamiah, kecuali di beberapa pesantren seperti Gontor dan cabang-cabangnya yang menyangkut kaligrafi ke dalam kurikulum. Belum ada sanggar yang aktif mengajarkan kaligrafi secara intensif. Sebaliknya seni lukis kaligrafi yang dimunculkan para perupa sejak akhir tahun 1970-an mulai menggeliat. Para khattat di pesantren-pesantren terus saja berkutat dengan goresan hitam putihnya seakan dikalahkan oleh para pelukis yang lebih piawai dan kreatif menyulap kaligrafi jadi ladang usaha. Para khattat murni yang ketinggalan ini memprihatinkan Didin. Ia ingin mengajak mereka melangkah lebih maju. Menurut bayangannya, jika para khattat ini digerakkan, potensi mereka yang dahsyat akan muncul. “Saya ingin mereka ikut makmur. Merekalah yang punya tulisan bagus, tapi mereka tidak dapat apa-apa dari karya mereka yang kurang diolah secara artistik,“ komentar pria pelukis kaligrafi yang berulang-ulang jadi jui kaligrafi MTQ Nasional dan Peraduan Menulis Khat ASEAN ini.

Di awal tahun 1980-an, asap perseteruan antara kubu kaligrafer murni dan pelukis kaligrafi masih mengepul. Ada kalanya, ketegangan itu sampai ke tingkat siaga I. Didin yang saat itu punya pergaulan luas dengan para khattat dan pelukis sekaligus tidak memilih pro para kaligrafer murni tempat dia bertolak yang sering kelewat reaktif terhadap para pelukis yang mereka tuding banyak menyalahi kaedah huruf. Ia bahkan berkampanye agar para khattat belajar kepada para pelukis yang lebih menguasai teknik rupa. Kampanyenya yang pertama ia kumandangkan dalam ceramah seninya tahun 1985 di Gedung Seni Sono Yogyakarta dan Masjid Agung Semarang tahun 1986.

Program pertama Lemka yang didirikannya adalah pembukaan kursus kaligrafi intensif akhir tahun 1985 di IAIN Jakarta dengan tahap-tahap kelas Basic (Naskhi), Secondary (Tsulus dan Riq’ah), Intermediate (Diwani dan Farisi), Post Intermediate (Tatawarna) dan kelas Advance yang direncanakan untuk tingkat profesional. Kursus ini oleh Didin dijadikan garda terdepan pembinaan kaligrafi di Lemka. Dengan mengambil metode demonstratif pelajaran diberikan dari dasar sesuai dengan slogan lembaga ini yaitu Lemka Membina dari Alif.

Selain mendorong pembukaan kursus kaligrafi di beberapa tempat di Jakarta, Didin juga berkeliling memberikan training di Bandung, Jambi, Bandar Lampung, Padang, Pekanbaru, Banda Aceh, Yogyakarta, Surabaya, Palu, Palangkaraya. Tahun 2000 ia diundang Pemerintah Brunei Darussalam untuk memberikan briefing tiga hari terhadap para penulis kaligrafi negara petro dollat tersebut.

Jalan yang ditempuh untuk mempercepat sosialisasi gagasannya adalah dengan menulis buku-buku kaligrafi, dimulai dengan buku Seni Kaligrafi Islam (1985) dilanjutkan dengan puluhan buku pelajaran dan diktat kursus lainnya yang dibaca anak-anak TK sampai para mahasiswa perguruan tinggi. Melalui buku-buku dan tulisan-tulisannya di media, pemenang Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN tahun 1987 ini berhasil mendorong didirikannya puluhan sanggar kaligrafi di pelbagai wilayah Indonesia. Didin menawarkan konsep pengembangan kaligrafi via sanggar yang dibagi kepada departemen-departemen dengan kegiatan-kegiatan kursus atau pelatihan skill, pameran, apresiasi, diskusi wawasan budaya seni dan kewirausahaan untuk membuka akses pasar peserta sanggar.

Hasratnya yang menggebu untuk memasyarakatkan kaligrafi lebih cepat nampak pada ajakannya untuk menyelenggarakan dialog pada momen-momen penting seperti lomba kaligrafi yang melibatkan tenaganya. Dalam setiap MTQ, Didin selalu spontan selalu membuat acara dialog dengan peserta lomba, pelatih dan official kaligrafi. Ia memancing keluhan dan berbagai usul peserta dialog lalu menunjukkan jalan keluarnya. “Dialog merupakan kesempatan untuk menampung segala aspirasi dan menyumbangkan pemikiran, cara dan teknik pembinaan,” katanya.

Mengapa dialog? Didin mengakui dirinya terpengaruh oleh filosuf besar Socrates yang mengembangkan metode dialog untuk menambah ilmu dan meningkatkan kebijaksaannya. Selain, tentu saja untuk meningkatkan ilmu pengetahuan masyarakat di sekitarnya. Dengan setiap hari berkeling di alun-alun kota Athena, Socrates menanyai siapa saja orang yang dijumpainya. Ia bahkan serng bertanya dengan berlagak bodoh untuk mendorong orang berbicara. Menurut Didin, menanyai orang dengan cara berkelakar akan menghasilkan sesuatu tanpa menegangkan.

Kemanapun pergi dan ketemu siapapun, Didin berbicara soal kaligrafi. Kepada para khattat ditanyakannya tentang kemajuan hasil latihannya. Para pelukis kawan-kawannyajuga ditanya seputar hasil usaha dari penjualan karya mereka. Ia juga membalas ratusan surat yangbersonsultasi kaligrafi kepadanya. Baginya cara-cara itu adalah bagian dari metode pengembangan. Tiada hari tanpa diskusi. Karena diskusi akan memberikan pengertian-pengertian dan kesadaran untuk maju,” kilahnya. Maka saat melawat ke beberapa daerah untuk melatih, ia mendiskusikan program pembinaan di daerah itu lalu diproklamirkannya sebuah sanggar kaligrafi yang baru.

Segala usahanya diarahkan kepada obsesinya untuk menjadikan Indonesia sebagai ladang pengembangan seni kaligrafi Islam, menyusul negara-negara seperti Iran, Irak, Turki dan Mesir yang sudah berjalan duluan. Potensi ke arah sana, menurut pengamatan pria penulis Al-qur’an Berwajah Puisi bersama H.B. Jassin yang menghebohkan ini sangat mungkin, karena SDM Indonesia luar biasa besar. Minat generasi muda terhadap kaligrafi di Indonesia dengan sense of art nya yang tinggi telah melebihi kesemarakan negara-negara yang jadi mbahnya kaligrafi tersebut. Saat melawat le Iran untuk mengikuti The 9th International Exhibition of The Holy Qur’an di bulan Ramadhan 2001, Didin yang menjadi ketua delegasi Indonesia bersama Ilham Khoiri dari ITB melihat respon publik Iran terhadap kaligrafi terutama Ta’liq, Nasta’liq dan Shikasteh luar biasa. “Namun kekayaan art seniman kita lebih unggul dari mereka,” katanya.

Model pembinaan ditempuh pula dengan membangkitkan rasa senang terhadap kaligrafi. Maka seni kaligrafi harus bernuansa rekreatif dan metode pengajarannya harus mengandung faktor novelty. Untuk itu Didin membuka program yang dinamakannya safari seni untuk kegiatan-kegiatan yang dibinanya edngan kurikulum melukis kaligrafi untuk anak-anak dan kegiatan demonstrasi massal kaligrafi di tempat-tempat rekerasi yang terbuka, temu tokoh seni dan kunjungan ke tempat-tempat pameran dan galeri seni rupa.

Hasil-hasil pencapaiannya tetap saja tidak memuaskannya. Seakan kehausan, Didin terus mencari jalan lain utnuk meluluskan pemikirannya yang menurut pengakuannya sudah bertumpuk. Ia menginginkan suatu laboratorium untuk pembinaan dan pusat studi kaligrafi di Indonesia. Ia juga mempikan sebuah Akademi Seni Islam.

Maka pada tanggal 9 Agustus 1998 didirikannya Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) di Sukabumi yang merupakan tempat ketujuh setelah enam kali bersama kader-kader binaannya gagal mencari lokasi yang tepat di kawasan Jabodetabek. Pesantren seni model baru yang pertama di Indonesia ini membina para kader daerah yang diplot untuk menjadi pelopor-pelopor pengembangan kaligrafi di seluruh nusantara.

Tentu saja Didin yang memimpin pesantren ini dan kader-kadernya cukup repot, karena harus bolak-balik1 50 km Jakarta-Sukabumi untuk mengontrol pesantrennya. “Lebih meletihkan daripada jalan kaki 4 km untuk mengaji di Kyai Jemod dulu,” kenang Didin tentang masa kanak-kanaknya.

Dalam jepitan kesibukannya mengurus danmenjadi imam masjid As-Salam di kawasan Ciputat, Didin yang aktif menjadi perumus lomba kaligrafi di MTQ menyempatkan berkarya. Ia berhasil menulis 4 mushaf Al-Qur’an dan dengan mushaf terakhirnya Al-Qur’an berwajah puisi ia bersama istri dan ibunya naik haji tahun 1994. Ratusan lukisan dihasilkannya mencakup puluhan set kalender kaligrafi yang paling banyak menyevar di Indonesia. Namun, lagi-lagi semuanya dihubungkan dengan perjuangannya, seperti dikatakannya: “Saya sebarkan karya-karya itu untuk dijadikan contoh dan sebagai bukti kreativitas saya. Saya tidak mau hanya mengecap. Saya mengajak anak-anak muda melukis kaligrafi bersama-sama dengan saya. Saya senang jika mereka senang.”

Yang perlu dicermati adalah tentang sosok karyanya. Ia tidak hanya menampilkan gaya-gaya murni yang ditekuninya, tetapi dengan keberaniannya terus bereksperimen mengolah huruf. Bertentangan dengan pendapat umumnya para khattat agar gaya kaligrafi harus murni. Didin mengatakan tidak. Menurutnya, pencarian mazhab belum selesai. Perlu dicari gaya-gaya baru. Sebab sejarah kaligrafi sendiri adalah sejarah perburuan mazhab-mazhab. Baginya soal gaya adalah soal ijtihadiyah. Karenanya, kita juga harus punya gaya khas Indonesia. Didin memelopori penamaan gaya-gaya kaligrafi dengan sebutan Syaifulu, Amani, Akrami, Hendrawi, Yetmoni, Hattai dan Pirousi untuk karya-karya khas pelukis-pelukis seperti Syaiful Adnan, Amang Rahman, Said Akram, Hendra Buana, Yetmon Amier, Hatta Hambali dan A.D. Pirous.

Didin mengarang banyak buku dan diktat kaligrafi mengaku terkesan oleh sikap kaligrafer Tunisia Naja Al-Mahdawi yang beruji coba huruf 13 jam perhari. Al-Mahdawi yang sering melukis bersama dengan perupa Jerman Hwifinkel sangat menguasai kaligrafi murni, namun juga piawai mengolah gaya-gaya kontemporer melalui uji cobanya yang oleh Charbal Dagir disebut “Al-la’bah al-majnunah” (permainan gila). Yang lebih menarik Didin adalah prinsip Al-Mahdawi bahwa huruf baginya adalah materi hidup yang memebri kebebasan sepenuhnya untuk diolah setiap saat. Untuk itu Didin berprinsip bahwa seniman kaligrafi harus menguasai gaya-gaya kaligrafi murrni seperti Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Kufi dan Riq’ah, tetapi harus mengembangkan pula gaya-gaya kontemporer yang diolah dari huruf-huruf yang telah dikuasainya. Cara itu pula yang diajarkan “sang guru kaligrafi seumur hidup ini” kepada kader-kader asuhannya dan ia juga berhasil mengumpulkan karya-karya uji cobanya dalam buku Kaligrafi Hitam Putih D. Sirojuddin AR.

Karya dan gagasan besar Didin ini tetap saja diakuinya terlalu kecil. Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammas saw bahwa Jika terjadi kiamat dan kamu masih sempat menanam sebutir benih, maka tanam saja, karena itu pun ada pahalanya.” Atau seperti kisah seseorang yang melempar-lemparkan binatang-binatang laut ke air sepanjang pesisir pantai di malam hari. Ketika ditanya, Apakah itu? Orang itu menjawab bahwa binatang-binatang itu akan mati manakala fajar menyingsing. Jadi ia berusaha menyelamatkan mereka. Saat ditanya lagi, Bagaimana mungkin, sebab pantai ini terlalu panjang, sedangkan binatang-binantang laut yang terdampar jumlahnya ribuan?”. Ia menjawab tenang: “Itu betul, saya hanya berjuang semaksimal yang bisa saya lakukan. Jika saya berhasil menyelamatkan beberapa ekor saja, itu pun sudah Alhamdulillah.” Didin merasakan bahwa usahanya masih jauh dari cukup, mungkin perlu dilipatgandakan seribu kali lagi. Ia hanya bergembira karena telah memulai.

Tetapi dari mana ia dapat memobilisasi komunitas kaligrafer ini? Didin hanya menjawab bahwa modalnya itu pun dari ayahnya. Ia melihat bagaimana ayahnya mengajar ngaji dengan tekun, menjadi imam di surau, dan bagaimana ia harus ronda setiap malam rakyatnya saat jadi kepala desa. Tetapi kesukaannya membaca lelakon para petualang, pelopor, dan penemu memberinya pengaruh sangat mendalam. Nabi Muhammad saw adalah yang patut dijadikan contoh dengan menghimpun pengikutnya dari satu orang, tiga, ratusan, hingga ribuan orang.

Ini adalah kisah perjalanan Didin yang dituturkan kepada kawan-kawannya sepenggal demi sepenggal. Banyak pula yang dilansir media massa. Ia ingin terus bergerak dan menempuh perjalanan yang jauh, seakan belum tahu ujungnya.

***

Adapun biar lebih sistematis, rincian tentang riwayat perjalanannya terkait kaligrafi dapat dilihat sebagai berikut :

Nama lengkap : Drs. H. Didin Sirojuddin Abdul Razaq, M.Ag.

Tempat/tgl lahir : Kuningan, 15 Juli 1957.

Pekerjaan utama : Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

Alamat : 1. Kantor

Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda 95, Ciputat, Jakarta Selatan 15412

Telp.(021) 7443329, Fax (021) 7402982.

2. Rumah :

Jl. Semanggi I/26, Cempaka Putih, Ciputat, Jakarta Selatan

15412. Telp./Fax. (021) 7496279 Hp. 08128414001.

KIPRAH DI BIDANG KALIGRAFI

1. Pendidikan

Belajar kaligrafi di Pondok Modern Gontor, Jawa Timur (1969-1975), dengan dukungan bakat melukis sejak sebelum masuk sekolah.

2. Jabatan

  1. Pendiri dan Ketua Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka), 1985 sampai sekarang di Ciputat.
  2. Pendiri dan Pimpinan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka), 1998 sampai sekarang di Sukabumi, Jawa Barat.

3. Kejuaraan

Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam, 1987.

4. Penjurian

Hampir dalam setiap event penting lomba kaligrafi mulai tingkat kota/kabupaten, propinsi, nasional dan ASEAN selalu terlibat dalam penjurian. Diantaranya :

a. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-13, 1983 di Padang.

b. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-15, 1988 di Bandar Lampung.

c. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-16, 1991 di Yogyakarta.

d. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-17, 1994 di Pekan Baru.

e. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-18, 1997 di Jambi.

f. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-19, 2000 di Palu.

g. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-20, 2003 di Palangkaraya.

h. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-21, 2006 di Kendari.

i. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-22, 2008 di Banten.

j. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-23, 2010 di Bengkulu.

k. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-8, 2003 di Bandung.

l. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-9. 2005 di Pontianak.

m. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-10, 2007 di Palembang

n. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-12, 2010 di Meulaboh.

o. Dewan Hakim Kaligrafi Pospenas di Medan Sumatera Utara, 2004.

p. Dewan Hakim Kaligrafi Pospenas di Samarinda Kalimantan Timur, 2007.

q. Koordinator Juri Sayembara Kaligrafi Festival Istiqlal ke-1, 1991, Jakarta.

r. Koordinator Juri Sayembara Kaligrafi Festival Istiqlal ke-2, 1995, Jakarta.

s. Koordinator Juri Sayembara Kaligrafi Hari Anak Nasional, 1990-1998, Jakarta

t. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Propinsi DKU Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jambi, Riau dan beberapa kabupaten di Jawa Barat dan Banten.

u. Koordinator Juri Sayembara Melukis Kaligrafi SCTV, 1995 Jakarta.

v. Dewan Hakim Lomba Kaligrafi Festival Anak Saleh II, 1994 dan IV, 1999, Jakarta.

w. Koordinator Juri Lomba Desain Cover Mushaf Al-Qur’an Departemen agama RI, Jakarta.

x. Koordinator Juri Lomba Kaligrafi Festival Seni dan Budaya Nusantara di Baitul Qur’an TMII, 2003 Jakarta.

y. Dewan Hakim Peraduan Menulis Khat ASEAN, 1998 Brunei Darussalam.

z. Dewan Hakim Peraduan Khat ASEAn 2002 Brunei Darussalam.

5. Pembinaan

Beberapa kali memberikan pembinaan kaligrafi di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumateran Utara, Riau, Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Nangroe Aceh Darussalam, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat. Tahun 1999 memberikan pembinaan dalam program pengembangan kaligrafi di Brunei Darussalam.

6. Pameran

Mengikuti pameran lukisan Islami di Yogyakarta, Aceh, Pekanbaru, Jambi, Kudus, Cirebon, Sukabumi, dan di Ibukota Jakarta (antara lain di Hotel Mandarin, Hotel Hilton, Hotel Gran Mulia, Taman Ismail Marzuki, Gedung Seni Rupa Depdikbud/Galeri Nasional Indonesia, gedung World Trade Center, Menara Kebon sirih, Taman Mini Indonesia Indah, Pasar seni Jaya Ancol, Masjid Istiqlal dan beberapa kampus perguruan tinggi di Jakarta), dan Teheran Iran.

7. Buku dan Diktat Karangan

a. Seni Kaligrafi Islam, 1985.

b. Pelajaran Kaligrafi Islam (2 Jilid), 1985.

c. Belajar Kaligrafi (7 Jilid), 1991.

d. Dinamika Kaligrafi Islam (terjemahan), 1992.

e. Belajar Cepat Menulis Al-Qur’an (4 Jilid), 1993.

f. Mewarnai Kaligrafi (8 Jilid), 1993.

g. Ketrampilan Menulis Kaligrafi bagi Dantri Pondok Pesantren, 2001.

h. Cara Mengajar Kaligrafi (terjemahan), 2002.

i. Kaligrafi Hitam Putih D. Sirojuddin AR, 2001.

j. Pak Didin Menabur Ombak Kaligrafi, 2002.

k. Nuansa Kaligrafi Islam: Kumpulan Karangan, 2002.

l. Latihan Melukis Kaligrafi dari Hitam Putih ke Warna-warna, 2002.

m. Desain Pelajaran Kursus Kaligrafi (4 Jilid), 1986.

n. Tentang Lemka dan Desain Pengembangan Kaligrafi Islam di Indonesia, 1991

o. Corat-Coret Bukan Asal Coret, 1993.

p. Gores Kalam: Butir-butir Pemikiran Sekitar Pengembangan Sei Kaligrafi Islam di Indonesia (artikel koran dan majalah 1984-1994).

q. Desain Latihan Mewarnai Kursus Kaligrafi Terpadu Lemka, 1996.

r. Asah-asuh Huruf: Himpunan Karya Master Bahan Latihan Pengajar Lemka, 1996.

s. Kaligrafi Arab: Peralihan dari Kufi ke Naskhi, 1996.

t. Membina Kaligrafi Gaya Lemka, 1996.

u. Persiapan Menuju MTQ: Kiat Latihan Para Khattat Peserta MTQ, 1996.

v. Khat Naskhi Untuk Kebutuhan Primer Baca Tulis, 1997.

w. Seni Kaligrafi Islamdi Indonesia Angkatan Perangkatan, 1998.

x. Tafsir Al-Qalam, 1999.

y. Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam (Ensiklopesi Kaligrafi Islam), 2007.

Selain itu juga menulis di beberapa jurnal dan media massa, antara lain :

Tahun 1985-1990

  1. “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an Terbentuk” dalam Majalah Panji Masyarakat no. 466, Jakarta 1985.
  2. "D. Sirojuddin AR Seniman Kaligrafi” dalam Jurnal Institut, Jakarta: Semester Genap 1985.
  3. “Pameran, Musabaqah dan Sarasehan Kaligrafi Islam” dalam Harian Kompas, Jakarta: Selasa, 10 Februari 1987.
  4. “Perlu Intervensi Lebih Keras” dalam Majalah Amanah no. 15, Jakarta: 30 Januari-12 Februari 1987.
  5. “200 Karya Seni Kaligrafi Dipamerkan di Istiqlal” dalam Harian Bisnis Indonesia, Jakarta: Sabtu, 7 Februari 1987.

6. “Mengenal Lemka” dalam Jurnal Institut, Jakarta: Juli 1987.

  1. “Kaligrafi Sekali Lagi: Mampukah Melahirkan Corak yang Benar Khas Indonesia” dalam Mingguan Minggu Pagi, Yogyakarta: 6-12 September 1987.
  2. “Pameran Kaligrafi Maulid 1408” dalam Majalah Panji Masyarakat no 559, Jakarta: 10-19 Rabiul Akhir 1408/1-10 Desember 1987.

Tahun 1991-1995

  1. “Agama: Alquran Berbaju Indonesia” dalam Majalah Editor no. 25, Jakarta: 2 Maret 1991“Jasa Ibnu Muqlah dan Bawwab” dalam Majalah Editor no. 25, Jakarta: 2 Maret 1991.
  2. “Indonesia Masih Miskin Lembaga Pengembangan Kaligrafi Arab” dalam Harian Terbit, Jakarta: Sabtu, 4 Mei 1991.
  3. “Sirajudin, Kaligrafi Masuk Kurikulum” dalam Harian Terbit, Jakarta: Selasa, 7 Mei 1991.
  4. “Tanpa Aturan, Kaligrafi Berkembang” dalam Harian Pelita, Jakarta: Jumat, 18 Oktober 1991/9 Rabiul Akhir 1412 H.
  5. “Kaligrafi Amatiran Diminati Pengunjung” dalam Harian Pelita, Jakarta: Rabu, 23 Oktober 1991/14 Rabiul Akhir 1412 H.
  6. “Dipamerkan, 12 Unggulan Kaligrafi” dalam Harian Pelita, Jakarta: Jumat, 25 Oktober 1991/16 Rabiul Akhir 1412 H.
  7. “Sayembara Kaligrafi Rangsang Minat Baca-tulis Alquran” dalam Harian Berita Buana, Jakarta: Jumat, 25 Oktober 1991.
  8. “Tua Muda Adu Kreasi Lomba Kaligrafi, Wanita Belum Berani Kalahkan Pria” dalam Harian Terbit, Jakarta: Selasa, 29 Oktober 1991.
  9. “D. Sirojuddin AR, Seniman Kaligrafi, Merasa Lebih Dikenal Lewat Festival Istiqlal” dalam Harian Pos Kota, Jakarta: Minggu, 17 Nopember 1991.
  10. “Menurut Sirojuddin AR, Dosen IAIN Jakarta: Penulisan Kaligrafi Murni Kekurangan Peminat” dalam Harian Pos Kota, Jakarta: 13 Desember 1991.
  11. “D. Sirojuddin AR, Ahli Kaligrafi Arab: Bentuk Puitisasi Alquran HB Jassin tak Menyalahi Kaedah Mushaf Utsmani” dalam Harian Terbit, Jakarta: Jumat, 22 Januari 1993.
  12. “Lemka Mempercepat Pemasyarakatan Kaligrafi” dalam Harian Pelita, Jakarta: Selasa, 6 April 1993/13 Syawal 1413.
  13. “Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi” dalam Harian Media Indonesia, Jakarta: Minggu, 29 Agustus 1993.
  14. “Sosok Didin Sirojuddin AR Kaligrafer Pendidik yang Rendah Hati” dalam Harian Media Indonesia, Jakarta: Minggu, 12 September 1993.
  15. “Siradjuddin AR Mengasah Pena Surga” dalam Jurnal Hikmah, Jakarta: Minggu, I Desember 1993 M.
  16. “Bidang Khatil Quran Utamakan Kaedah Tulisan” dalam Harian Riau Pos, Pekanbaru: 3 Pebruari 1994.
  17. “Gelar Kaligrafi di Hilton: Mencipta Jagat Raya dari Bulu Ayam” dalam Harian Republika, Jakarta: Rabu, 23 Pebruari 1994.
  18. “Lemka IAIN Jakarta Adakan Lomba Kaligrafi TK se-Riau” dalam Harian Riau Pos, Pekanbaru: Rabu, 20 Juli 1994.
  19. “Dari Lomba Mewarnai Kaligrafi Anak-anak TK, TKA, dan TPA se-Riau: Perangsang Agar Pembinaan Dimulai dari Dasar” dalam Harian Riau Pos, Pekanbaru: Jumat, 22 Juli 1994.
  20. “Wajah Seni Lukis Islami: Melukis Manusia, Mengapa Tidak?” dalam Harian Republika, Jakarta: Kamis, 11 Agustus 1994.
  21. “Pendiri Lembaga Kaligrafi Indonesia Drs. D. Sirojuddin AR: Memberi Huruf Alif Saja, Kemenangan Bagi Dakwah Islam” dalam Majalah Pembina no. 172, Jakarta: September 1994.
  22. “Lembaga Kaligrafi Alquran Menumbuhkan Kecintaan Masyarakat Terhadap Seni Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 4 November 1994.
  23. “Menghidupkan Tradisi Suci” dalam Majalah Panji Masyarakat no. 818, Jakarta: 11-20 Pebruari 1995.
  24. “Minat pada Lukis Kaligrafi Meningkat” dalam Harian Kompas, Jakarta: Jumat, 19 Mei 1995.
  25. “A.D. Pirous: Seni Kaligrafi Kian Diminati” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 19 Mei 1995.
  26. “Bocah dari Surabaya Menangkan Lomba Kaligrafi Islami SCTV” dalam Harian Merdeka, Jakarta: Jumat Pon, 19 Mei 1995/19 Dzulhijjah 1415 H.

27. “Ragam: Potensi Kaligrafi” dalam Majalah Gatra, Jakarta: 3 Juni 1995.

  1. “Menyimak Pesan Islam Lewat Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 30 Juni 1995.
  2. "Lukisan-lukisan Islami yang Memberontak” dalam Harian Republika, Jakarta: Minggu, 2 Juli 1995.
  3. “Menyambut Festival Istiqlal ke-II: Kaligrafi Itu Indah” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 14 Juli 1995.
  4. “Kaligrafi dan Mushaf Alquran Ibarat Dua Sisi Mata Uang” dalam Harian Republika, Jakarta: 14 Juli 1995.
  5. “Sirajuddin AR Menangguk Rizki dari Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 14 Juli 1995.
  6. “Sastrawan HB Jassin Luncurkan Buku Kontroversi Al-Qur’an Berwajah puisi” dalam Harian Kompas, Jakarta: Selasa 1 Agustus 1995.
  7. “Ditandai Peluncuran Buku Terbaru, Bukan Tokoh-tokoh Sastra Hadiri Ulang Tahun Jassin” dalam Harian Merdeka, Jakarta: Selasa Pahing, 1 Agustus 1995/4 Rabiulawal 1414 H.
  8. “HB Jassin Menunggu Rekomendasi Depag” dalam Harian Republika, Jakarta: Selasa, 1 Agustus 1995.
  9. “Merayakan HUT-nya Yang Ke-78 HB Jassin Meluncurkan Buku” dalam Harian Suara Karya, Jakarta: Selasa, 1 Agustus 1995.
  10. “Diluncurkan, Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi” dalam Harian Media Indonesia, Jakarta: Selasa, 1 Agustus 1995.
  11. “Pena Mas Untuk Seniman Kaligrafi” dalam Tabloid Hikmah, Jakarta: Minggu V September 1995/4 Jumadil Awal.
  12. “Studium General HMI KOMFAKSYA Bersama HB Yassin dan D. Sirojuddin AR: Salah Paham Terhadap Al-Qur’an Berwajah Puisi” dalam Tabloid Dialogia, Jakarta: Vol.I/X/95.
  13. “Hari Minggu Besok, Demo Akbar Para Penulis Indah-Kaligrafi” dalam Harian Pelita, Jakarta: Sabtu-Minggu, 14-15 Oktober 1995/19-20 Jumadil Awal 1416 H.
  14. “Demonstrasi Kaligrafi Akbar” dalam Harian Republika, Jakarta: Senin, 16 Oktober 1995.
  15. “Al-Quran Gagasan HB Jassin Tetap Berdasarkan Kaidah Mushaf Ustmani” dalam Harian Pelita, Jakarta: Senin, 16 Oktober 1995/21 Jumadil Awal 1416 H.
  16. “Alquran Mushaf Istiqlal, Mushaf Berwajah Indonesia” dalam Majalah Ummat no. 8, Jakarta: 16 Oktober 1995/21 Jumadil Awal 1416 H.
  17. “Pemenang Sayembara Kaligrafi Terima Hadiah, Ketua Umum FI-II Mar’ie Muhammad Resmikan Sanggar Kaligrafi se-Indonesia” dalam Harian Pelita, Jakarta: 17 Oktober 1995.

45. “Lemka dan Dunianya” dalam Majalah Estafet, Jakarta: Oktober 1995.

  1. “Kaligrafi Islam Indonesia Di Bawah Bayang-bayang Pendahulu” dalam Harian Kompas, Jakarta: 19 Oktober 1995.
  2. “Al-Qur’an Karya HB Jassin Tidak Ikut Dipamerkan” dalam Harian Pelita, Jakarta: 21 Oktober 1995.
  3. “Seni Lukis dalam Puisi Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Minggu, 29 Oktober 1995.
  4. “27 Kaligrafer Muda Profesional Berdemonstrasi, Al-Qur’anul Karim Berwajah Puisi Diluncurkan” dalam Harian Pelita, Jakarta: 30 Oktober 1995.
  5. “Membina Potensi Dunia” dalam Buletin Gores Kalam no. 9, Jakarta: Maret 1996.

Tahun 1996-2000

  1. “Tawaran Nilai Baru Seni Lukis Islami” dalam Harian Republika, Jakarta: Sabtu, 12 Oktober 1996.
  2. “Pesantren Kaligrafi Alquran: Sebuah Kado Ulang Tahun” dalam Buletin Gores Kalam no. 10, Jakarta: Nopember 1996.
  3. “Melacak Seni Kaligrafi di Indonesia” dalam Harian Suara Merdeka, Semarang: Jumat, 24 Januari 1997.
  4. “Syaiful Adnan: Saya Dianggap Pemberontak” dalam Harian Suara Merdeka, Semarang: Jumat, 24 Januari 1997.
  5. “Pesantren Kaligrafi Alquran Tonggak Pembinaan Seni Kaligrafi”dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 14 Februari 1997.
  6. “Lemka Jakarta Adakan Dialog Seni Kaligrafi” dalam Harian Independent, Jambi: Sabtu, 12 Juli 1997.
  7. “Lomba Khat Dekorasi Makin Seru” dalam Harian Pikiran Rakyat, Bandung: 13 Juli 1997.
  8. “Sirojuddin: Lemka Harapkan RI Ikut Lomba Kaligrafi di Turki” dalam Harian Sriwijaya Pos, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  9. “Indonesia Siapkan Kafilah Ikuti MKQ di Turki” dalam Harian Independent, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  10. “Mutu Kaligrafi di MTQ Kian Meningkat” dalam Harian Republika, Jakarta: Senin, 14 Juli 1997.
  11. “Jambi Agreement Diharapkan Memacu Perkembangan Kaligrafi” dalam Harian Independent, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  12. “Kaligrafi Diusulkan Jadi Pelajaran Sekolah Formal” dalam Harian Sumatera Ekspres, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  13. “Diusulkan Kaligrafi Masuk Kurikulum Sekolah” dalam Harian Kompas, Jakarta: 14 Juli 1997.
  14. “Disiapkan Kafilah Khattil Alquran Berlomba di Turki” dalam Harian Sumatera Ekspres, Jambi: 15 Juli 1997.
  15. “D. Sirojuddin AR Di Depan Kesempurnaan Wahyu” dalam Lembar Khas Panji Masyarakat no. 39, Jakarta: 13 Januari 1999.
  16. “Bintang Zaman: Dialah Nabinya Kaligrafi” dalam Lembaran Khas Panji Masyarakat no. 49, Jakarta: 24 Maret 1999.
  17. “Seni Kaligrafi, Keindahan Goresan Huruf” dalam Tabloid Media Ka’bah ed. 9, Jakarta: 20 Juli 1999 (7 Rabiul tsani 1420 H).
  18. “Kalau Seniman Bikin Pesantren” dalam Majalah Panji Masyarakat no. 19, Jakarta: 25 Agustus 1999.
  19. “Lemka Akan Segera Pamerkan Lukisan Kaligrafi” dalam Jurnal Progresif ed. 5, Jakarta: 24 Juli-4 Agustus 2000.
  20. “Lemka: Bukan Sekedar Mencetak Juru Tulis” dalam Majalah Mimbar no. 03, Jakarta: Mei-Juni 2000.
  21. “Sirojuddin AR Seperti Arus Air” dalam Majalah Mimbar no. 03, Jakarta: Mei-Juni 2000.
  22. “Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an LEMKA Mencetak Kader Pelukis dan Penulis Handal” dalam Jurnal Progresif no. 06, Jakarta: 8-18 Agustus 2000.

Tahun 2001-2005

  1. “Banyak Kolektor Kaligrafi dari Non Muslim” dalam Tabloid Jurnal Islam no. 29, Jakarta: 8-14 Dzulqa’dah 1421 H/2-8 Februari 2001.
  2. “Kaligrafi: Wawancara Dengan Drs. H.D. Sirojuddin AR, MAg, Ketua Dewan Hakim Kaligrafi” dalam Tabloid Pers Santri, Ma’had Al-Zaytun Indramayu: Oktober 2001.
  3. “Dari Arena Pospenas I: Pesantren Tak Cuma Mencetak Ulama” dalam Harian Republika, Jakarta: 2 November 2001.
  4. “Pesantren Kaligrafi, Sukabumi: Mendedah Kalamullah, Mengasah Akidah” dalam Majalah Forum Keadilan no. 37, Jakarta: 30 Desember 2001.
  5. “Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka” dalam Majalah Hidayah ed. 6, Jakarta: Syawal 1422/Januari 2002.
  6. “Catatan Perjalanan: Menengok Pameran Internasional ke-IX Holly Qur’an di Teheran Iran Seri 1” dalam Majalah Hidayah ed. 7, Jakarta: Zulqaidah 1422/Februari 2002.
  7. “Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka: Mencetak Santri Seniman” dalam Majalah Suara Hidayatullah no. 11, Jakarta: Maret 2002.
  8. “Catatan Perjalanan: Menengok Pameran Internasional ke-IX Holly Qur’an di Teheran Iran Seri 2” dalam Majalah Hidayah ed. 8, Jakarta: Dzulhijjah 1422/Maret 2002.
  9. “Membumikan Pesan Ilahi Melalui Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Minggu, 17 Maret 2002.
  10. “D Sirojuddin AR, Direktur Lembaga Kaligrafi Al Quran (LEMKA): Kita Siap Jihad Melawan Mereka…” dalam Tabloid Jurnal Islam no. 105, Jakarta: 14-20 Jumadil tsaniyah 1423 H/23-29 Agustus 2002.
  11. “Nuansa Ramadhan: Al-Qur’an dan Hadis Beri Isyarat” dalam Harian Radar Bogor, Bogor: Jumat, 29 November 2002/24 Ramadhan 1423 H.
  12. “Dinas Pendidikan Belum Optimal Kembangkan Seni Kaligrafi” dalam Harian Pakuan, Bogor: Sabtu-Senin, 30 Nopember-1 Desember 2002.
  13. “Kaligrafi Indah Sirojuddin” dalam Harian Republika, Jakarta: Rabu, 7 Mei 2003.
  14. “Lembaga Kaligrafi Al Quran Mencetak Seniman Kaligrafi Al Quran” dalam Majalah Hikmah ed. 03, Jakarta: Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003.
  15. “Drs. H. Didin Sirojuddin AR, MAg Mengembangkan Kaligrafi untuk Dakwah dan Hiburan” dalam Profil Tokoh, Pengusaha & Profesional Muslim Indonesia, Jakarta: Pusat Profil Muslim Indonesia, 2003.
  16. “Didin Sirojuddin AR Rezeki Goresan Kaligrafi” dalam Majalah Gontor ed. 05, Jakarta: Rajab 1424 H/September 2003 M.
  17. “Penulis Kaligrafi Masjid: Indahnya Mengukir Kalam Tuhan” dalam Majalah Hidayah ed. 27, Jakarta: Rajab/Sya’ban 1424 H/Oktober 2003.
  18. “D. Sirojuddin AR: Menulis Quran Membuat Saya Takut” dalam Tabloid Fikri ed. 08, Jakarta: 29 Oktober-04 November 2003.
  19. “D. Sirojuddin AR Menaklukkan Kaligrafer Timteng” dalam Tabloid Fikri ed. 08, Jakarta: 29 Oktober-04 November 2003.
  20. “Perkembangan Seni Kaligrafi Menggembirakan” dalam Harian Pakuan, Bogor: Sabtu-Senin, 6-8 Maret 2004.
  21. “Seniman Usulkan Partai Kaligrafi” dalam Harian Radar Bogor, Bogor: Senin, 8 Maret 2004.
  22. “Seni Kaligrafi Cukup Diminati” dalam Harian Radar Bogor, Bogor: Senin, 8 Maret 2004.
  23. “PP. Kaligrafi Al-Quran Lemka Sukabumi, Jawa Barat, Pesantren Artistik Pencetak Seniman Muslim” dalam Majalah Hikayah ed. 09, Jakarta: Rabiul Awal 1425/Mei 2004.
  24. “Drs. H. Didin Sirajuddin MAg Dakwah bil Kuas Kaisar Kaligrafi” dalam Majalah Hikayah ed. 09, Jakarta: Agustus 2004.
  25. “Sirojuddin Abdul Rojak, Surat Pengantar Haji” dalam Harian Republika, Jakarta: Sabtu, 7 Agustus 2004.
  26. “Daur Didin Sirojuddin AR fi Tanmiyah Al-Khat Al-‘Arabi fi Indunisia” (Skripsi Nurhaeni), Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 10 Agustus 2004.
  27. “Penulis Kaligrafi Menguasai Huruf Arab, Berkeinginan Kuat, dan Berbakat Seni yang Baik” dalam Harian Republika, Jakarta: Rabu: 29 September 2004.
  28. “Lembaga Kaligrafi Al Quran Berdakwah Lewat Huruf” dalam Majalah Wanita Ummi no. 5, Jakarta: September-Oktober 2004/1425 H.
  29. “Belajar Kaligrafi di Lemka” dalam Majalah Bobo, Jakarta: 28 Oktober 2004.
  30. “D. Siradjudin AR Berdakwah Lewat Kaligrafi” dalam Tabloid Dialog Jumat Republika, Jakarta: Jumat, 5 November 2004.
  31. “Laskar Cinta Sensasi Kebablasan Dewa” dalam Harian Republika, Jakarta: Ahad, 17 April 2005.
  32. “Drs. Didin Sirojuddin, MA Pakar Kaligrafi Indonesia: Membumikan Fiqih Seni” dalam Majalah Forum Keadilan No. 03, Jakarta: 15 Mei 2005.

Tahun 2006-2008

  1. 114. “Mengunjungi Pesantren Kaligrafi di Sukabumi (1): Mendalami Ilmu di Tengah Lingkungan yang Masih Alami” dalam Harian Seputar Indonesia Edisi Jawa Barat, Bandung: Senin, 6 Maret 2006.
  2. “Mengunjungi Pesantren Kaligrafi di Sukabumi (2): Pelajaran Banyak Juga Diikuti Para Santri Kalong” dalam Harian Seputar Indonesia Edisi Jawa Barat, Bandung: Selasa, 7 Maret 2006.
  3. “Menyelami Lebih Dalam Kaligrafi Islam” dalam Majalah Peduli Ummat, Bazis Provinsi DKI Jakarta: 21 Juni-20 Juli 2006.
  4. “Empat Kafilah DKI Lolos Final Pada Lomba Kaligrafi” dalam Harian Umum Media Sultra, Kendari: Kamis, 3 Agustus 2006.
  5. ”D. Sirojuddin AR Pakar Kaligrafi dari Kuningan: Bakat Berkat” dalam Majalah Nebula No. 23/Thn.II/2006, Jakarta.
  6. “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) Jakarta Lembaga Para Juara” dalam Majalah Nebula No.23/Thn.II/2006, Jakarta.
  7. “Pesantren Kaligrafi Lemka Tempat Berkarya Seniman Muslim” dalam Tabloid Haji & Umrah Edisi ke-40 Tahun IV, Jakarta: November 2006.
  8. “KH. Didin Sirojuddin Akrab Dengan Keajaiban Huruf Al Quran” dalam Tabloid Khalifah Edisi 48/Th. II/2006, Jakarta: 9-22 November/17 Syawal-1 Dzulqa’dah 1427 H.
  9. “Peran D. Sirojuddin AR, MA dalam Dakwah Melalui Seni Kaligrafi Islam” (Skripsi Enny Nuur Fajriyah), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Pebruari 2007.
  10. “Tadris Kitabah al-Khat fi Majma’ al-Khat al-‘Arabi al-Qur’ani LEMKA fi Ciputat: Al-Dirasah al-Wasfiyah al-Kaifiyah”, (Skripsi Dedi Rusmiadi), Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Negeri Jakarta: 2007.
  11. “The Faculty of Adab and Humanities of UIN Jakarta holds an Islamic Art Fair” dalam UIN News 17th Edition, Jakarta: September 2007/Sha’ban 1428 H.
  12. “Menata Kaligrafi, Menggali Sumber Rezeki” dalam Majalah Seni Rupa Visual Arts Vol. 21, Jakarta: 21 Oktober-November 2007.
  13. “H. Didin Sirojuddin AR Makin Variatif” dalam Harian Fajar Banten, Serang: Sabtu, 21 Juni 2008.
  14. “Sebanyak 180 Peserta Kaligrafi Bersaing Ketat” dalam Harian Fajar Banten, Serang: Sabtu, 21 Juni 2008.
  15. “Berkunjung ke Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka, Kampus Pencetak Seniman Muslim” dalam Majalah Tarbawi ed. 180 th. 9, Jakarta: Jumadats Tsaniyah 1429 H/5 Juni 2008 M.
  16. “Sirojuddin AR: Kaligrafi Kini Makin Berkembang”, dalam Majalah Seni Dwi Mingguan ARTI ed. 007, Jakarta: 04-17 September 2008.
  17. “Menghidupkan Huruf Menuai Makna” dalam Majalah Seni Dwi Mingguan ARTI ed. 007, Jakarta: 04-17 September 2008.

Artikel ini di download from Internet

Sejarah Perkembangan Kaligrafi di Dunia Islam

Sejarah Perkembangan Kaligrafi di Dunia Islam
Bangsa Arab diakui sebagai bangsa yang sangat ahli dalam bidang sastra, dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada masanya, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (baca: khat) masih tertinggal jauh bila dibandingkan beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya bangsa Mesir dengan tulisan Hierogliph, bangsa India dengan Devanagari, bangsa Jepang dengan aksara Kaminomoji, bangsa Indian dengan Azteka, bangsa Assiria dengan Fonogram/Tulisan Paku, dan pelbagai negeri lain sudah terlebih dahulu memiliki jenis huruf/aksara. Keadaan ini dapat dipahami mengingat Bangsa Arab adalah bangsa yang hidupnya nomaden (berpindah-pindah) yang tidak mementingkan keberadaan sebuah tulisan, sehingga tradisi lisan (komuniksai dari mulut kemulut) lebih mereka sukai, bahkan beberapa diantara mereka tampak anti huruf. Tulisan baru dikenal pemakaiannya pada masa menjelang kedatangan Islam dengan ditandai pemajangan al-Mu’alaqat (syair-syair masterpiece yang ditempel di dinding Ka’bah).
Pembentukan huruf abjad Arab sehingga menjadi dikenal pada masa-masa awal Islam memakan waktu berabad-abad. Inskripsi Arab Utara bertarikh 250 M, 328 M dan 512 M menunjukkan kenyataan tersebut. Dari inskripsi-inskripsi yang ada, dapat ditelusuri bahwa huruf Arab berasal dari huruf Nabati yaitu huruf orang-orang Arab Utara yang masih dalam rumpun Smith yang terutama hanya menampilkan huruf-huruf mati. Dari masyarakat Arab Utara yang mendiami Hirah dan Anbar tulisan tersebut berkembang pemakaiannya ke wilayah-wilayah selatan Jazirah Arab.
Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Umayyah (661-750 M)
Beberapa ragam kaligrafi awalnya dikembangkan berdasarkan nama kota tempat dikembangkannya tulisan. Dari berbagai karakter tulisan hanya ada tiga gaya utama yang berhubungan dengan tulisan yang dikenal di Makkah dan Madinah yaitu Mudawwar (bundar), Mutsallats (segitiga), dan Ti’im (kembar yang tersusun dari segitiga dan bundar). Dari tiga inipun hanya dua yang diutamakan yaitu gaya kursif dan mudah ditulis yang disebut gaya Muqawwar berciri lembut, lentur dan gaya Mabsut berciri kaku dan terdiri goresan-goresan tebal (rectilinear). Dua gaya inipun menyebabkan timbulnya pembentukan sejumlah gaya lain lagi diantaranya Mail (miring), Masyq (membesar) dan Naskh (inskriptif). Gaya Masyq dan Naskh terus berkembang, sedangkan Mail lambat laun ditinggalkan karena kalah oleh perkembangan Kufi. Perkembangan Kufi pun melahirkan beberapa variasi baik pada garis vertikal maupun horizontalnya, baik menyangkut huruf-huruf maupun hiasan ornamennya. Muncullah gaya Kufi Murabba’ (lurus-lurus), Muwarraq (berdekorasi daun), Mudhaffar (dianyam), Mutarabith Mu’aqqad (terlilit berkaitan) dan lainnya. Demikian pula gaya kursif mengalami perkembangan luar biasa bahkan mengalahkan gaya Kufi, baik dalam hal keragaman gaya baru maupun penggunannya, dalam hal ini penyalinan al-Qur’an, kitab-kitab agama, surat-menyurat dan lainnya.
Diantara kaligrafer Bani Umayyah yang termasyhur mengembangkan tulisan kursif adalah Qutbah al-Muharrir. Ia menemukan empat tulisan yaitu Thumar, Jalil, Nisf, dan Tsuluts. Keempat tulisan ini saling melengkapi antara satu gaya dengan gaya lain sehingga menjadi lebih sempurna. Tulisan Thumar yang berciri tegak lurus ditulis dengan pena besar pada tumar-tumar (lembaran penuh, gulungan kulit atau kertas) yang tidak terpotong. Tulisan ini digunakan untuk komunikasi tertulis para khalifah kepada amir-amir dan penulisan dokumen resmi istana. Sedangkan tulisan Jalil yang berciri miring digunakan oleh masyarakat luas.
Sejarah perkembangan periode ini tidak begitu banyak terungkap oleh karena khilafah pelanjutnya yaitu Bani Abbasiyah telah menghancurkan sebagian besar peninggalan-peninggalannya demi kepentingan politis. Hanya ada beberapa contoh tulisan yang tersisa seperti prasasti pembangunan Dam yang dibangun Mu’awiyah, tulisan di Qubbah Ash-Shakhrah, inskripsi tulisan Kufi pada sebuah kolam yang dibangun Khalifah Hisyam dan lain-lain.
Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Abbasiyah (750-1258 M)
Gaya dan teknik menulis kaligrafi semakin berkembang terlebih pada periode ini semakin banyak kaligrafer yang lahir, diantaranya Ad-Dahhak ibn ‘Ajlan yang hidup pada masa Khalifah Abu Abbas As-Shaffah (750-754 M), dan Ishaq ibn Muhammad pada masa Khalifah al-Manshur (754-775 M) dan al-Mahdi (775-786 M). Ishaq memberi kontribusi yang besar bagi pengembangan tulisan Tsuluts dan Tsulutsain dan mempopulerkan pemakaiannya. Kemudian kaligrafer lain yaitu Abu Yusuf as-Sijzi yang belajar Jalil kepada Ishaq. Yusuf berhasil menciptakan huruf yang lebih halus dari sebelumnya.
Adapun kaligrafer periode Bani Abbasiyah yang tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu Muqlah yang pada masa mudanya belajar kaligrafi kepada Al-Ahwal al-Muharrir. Ibnu Muqlah berjasa besar bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya yang spektakuler tentang rumus-rumus geometrikal pada kaligrafi yang terdiri dari tiga unsur kesatuan baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu : titik, huruf alif, dan lingkaran. Menurutnya setiap huruf harus dibuat berdasarkan ketentuan ini dan disebut al-Khat al-Mansub (tulisan yang berstandar). Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam as-Sittah) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa’, dan Tauqi’ yang merupakan tulisan kursif. Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat Kufi.
Usaha Ibnu Muqlah pun dilanjutkan oleh murid-muridnya yang terkenal diantaranya Muhammad ibn As-Simsimani dan Muhammad ibn Asad. Dari dua muridnya ini kemudian lahir kaligrafer bernama Ibnu Bawwab. Ibnu Bawwab mengembangkan lagi rumus yang sudah dirintis oleh Ibnu Muqlah yang dikenal dengan Al-Mansub Al-Faiq (huruf bersandar yang indah). Ia mempunyai perhatian besar terhadap perbaikan khat Naskhi dan Muhaqqaq secara radikal. Namun karya-karyanya hanya sedikit yang tersisa hingga sekarang yaitu sebuah al-Qur’an dan fragmen duniawi saja.
Pada masa berikutnya muncul Yaqut al-Musta’simi yang memperkenalkan metode baru dalam penulisan kaligrafi secara lebih lembut dan halus lagi terhadap enam gaya pokok yang masyhur itu. Yaqut adalah kaligrafer besar di masa akhir Daulah Abbasiyah hingga runtuhnya dinasti ini pada tahun 1258 M karena serbuan tentara Mongol.
Pemakaian kaligrafi pada masa Daulah Abbasiyah menunjukkan keberagaman yang sangat nyata, jauh bila dibandingkan dengan masa Umayyah. Para kaligrafer Daulah Abbasiyah sangat ambisius menggali penemuan-penemuan baru atau mendeformasi corak-corak yang tengah berkembang. Karya-karya kaligrafi lebih dominan dipakai sebagai ornamen dan arsitektur oleh Bani Abbasiyah daripada Bani Umayyah yang hanya mendominasi unsur ornamen floral dan geometrik yang mendapat pengaruh kebudayaan Hellenisme dan Sasania.
Perkembangan Kaligrafi Periode Lanjut
Selain di kawasan negeri Islam bagian timur (al-Masyriq) yang membentang di sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat dari negeri Islam (al-Maghrib) yang terdiri dari seluruh negeri Arab sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya kaligrafi yang berkembang dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima, sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif.
Sementara bagi kawasan Masyriq, setelah kehancuran Daulah Abbasiyah oleh tentara Mongol dibawah Jengis Khan dan puteranya Hulagu Khan, perkembangan kaligrafi dapat segera bangkit kembali tidak kurang dari setengah abad. Oleh Ghazan cucu Hulagu Khan yang telah memeluk agama Islam, tradisi kesenian pun dibangun kembali. Penggantinya yaitu Uljaytu juga meneruskan usaha Ghazan, ia memberikan dorongan kepada kaum terpelajar dan seniman untuk berkarya. Seni kaligrafi dan hiasan al-Qur’an pun mencapai puncaknya. Dinasti ini memiliki beberapa kaligrafer yang dibimbing Yaqut seperti Ahmad al-Suhrawardi yang menyalin al-Quran dalam gaya Muhaqqaq tahun 1304, Mubarak Shah al-Qutb, Sayyid Haydar, Mubarak Shah al-Suyufi dan lain-lain.
Dinasti Il-Khan yang bertahan sampai akhir abad ke-14 digantikan oleh Dinasti Timuriyah yang didirikan Timur Leng. Meskipun dikenal sebagai pembinasa besar, namun setelah ia masuk Islam kaum terpelajar dan seniman mendapat perhatian yang istimewa. Ia mempunyai perhatian besar terhadap kaligrafi dan memerintahkan penyalinan al-Qur’an. Hal ini dilanjutkan oleh puteranya Shah Rukh. Diantara ahli kaligrafi pada masa ini adalah Muhammad al-Tughra’I yang menyalin al-Qur’an bertarih 1408 daam gaya Muhaqqaq emas. Dan putera Shah Rukh sendiri yang bernama Ibrahim Sulthan menjadi salah seorang kaligrafer terkemuka.
Dinasti Timuriyah mengalami kemunduran menjelang abad ke-15 dan segera digantikan oleh Dinasti Safawiyah yang bertahan di Persia dan Irak sampai tahun 1736. pendirinya Shah Ismail dan penggantinya Shah Tahmasp mendorong perumusan dan pengembangan gaya kaligrafi baru yang disebut Ta’liq yang sekarang dikenal khat Farisi. Gaya baru yang dikembangkan dari Ta’liq adalah Nasta’liq yang mendapat pengaruh dari Naskhi. Tulisan Nasta’liq ahkirnya menggeser Naskhi dan menjadi tulisan yang biasa digunakan untuk menyalin sastra Persia.
Di Kawasan India dan Afganistan berkembang kaligrafi yang lebih bernuansa tradisional. Gaya Behari muncul di India pada abad ke-14 yang bergaris horisontal tebal memanjang yang kontras dengan garis vertikalnya yang ramping. Sedangkan di kawasan Cina memperlihatkan corak yang khas lagi, dipengaruhi tarikan kuas penulisan huruf Cina yang lazim disebut gaya Shini. Gaya ini mendapat pengaruh dari tulisan yang berkembang di India dan Afganistan. Tulisan Shini biasa ditorehkan di keramik dan tembikar.
Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Arab diperintah oeh Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di Turki. Perkembangan kaligrafi sejak masa dinasti ini hingga perkembangan terakhirnya selalu terkait dengan dinasti Utsmaniyah Turki. Perkembangan kaligrafi pada masa Utsmaniyah ini memperlihatkan gairah yang luar biasa. Kecintaan kaligrafi tidak hanya pada kalangan terpelajar dan seniman tetapi juga beberapa sultan bahkan dikenal juga sebagai kaligrafer. Mereka tidak segan-segan untuk merekrut ahli-ahli dari negeri musuh seperti Persia, maka gaya Farisi pun dikembangkan oleh dinasti ini. Adapun kaligrafer yang dipandang sebagai kaligrafer besar pada masa dinasti ini adalah Syaikh Hamdullah al-Amasi yang melahirkan beberapa murid, salah satunya adalah Hafidz Usman. Perkembangan kaligrafi Turki sejak awal pemerintahan Utsmaniyah melahirkan sejumlah gaya baru yang luar biasa indahnya, berpatokan dengan gaya kaligrafi yang dikembangkan di Baghdad jauh sebelumnya. Yang paling penting adalah Syikastah, Syikastah-amiz, Diwani, dan Diwani Jali. Syikastah (bentuk patah) adalah gaya yang dikembangkan dari Ta’liq an Nasta’liq awal. Gaya ini biasanya dipakai untuk keperluan-keperluan praktis. Gaya Diwani pun pada mulanya adalah penggayaan dari Ta’liq. Tulisan ini dikembangkan pada akhir abad ke-15 oleh Ibrahim Munif, yang kemudian disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah. Gaya ini benar-benar kursif, dengan garis yang dominan melengkung dan bersusun-susun. Diwani kemudian dikembangkan lagi dan melahirkan gaya baru yang lebih monumental disebut Diwani Jali, yang juga dikenal sebagai Humayuni (kerajaan). Gaya ini sepenuhnya dikembangkan oleh Hafidz Usman dan para muridnya.
Artikel ini didownload from internet : kata kunci “perkembangan Kaligrafi”

Kaligrafi dan Perkembangannya

Kaligrafi dan Perkembangannya

1. Pengertian Kaligrafi
Kata Kaligrafi ini berasal dari bahasa Yunani yang disederhanakan dalam bahasa Inggris yaitu Calligraphy yang berasal dari dua suku kata bahasa Yunani yaitu Kallos dan Graph yang berarti beauty (indah) dan grapeny: to write (menulis), jadi dapat diartikan dengan tulisan indah, atau seni tulisan indah. Dalam bahasa Arab kaligrafi, kaligrafi ini biasa disebut dengan khath, (الخط، ج خطوط) . Merupakan bentuk masdar dari bahasa Arab yaitu ( – يخط – خطا خط) yang artinya الكتبة atau السطر (tulisan atau garis), misalnya خط الشيئ artinyaبقلم أو غيره كتبه (ia menulis atau memberi garis dengan pena atau dengan yang lain)
Manja Mohd Ludin dan Ahmad Suhaimi J. Mohd Nor mengungkapkan pengertian kaligrafi itu suatu coretan atau tulisan yang membawa maksud tulisan yang indah, dalam arti kata tulisan tersebut mempunyai kehalusan dan kesenian. Dengan demikian dapat dikatakan suatu tulisan yang ditulis dengan indah atau suatu kepandaian menulis elok dan boleh juga dikatakan seni tulisan indah. Dalam mengungkapkan pengertian kaligrafi ini bermacam-macam ungkapan yang dikemukakan oleh para tokoh dan pencintanya. Ungkapan tersebut sesuai dengan pengalaman yang dirasakan oleh kaligrafer itu sendiri, sehingga masing-masing kaligrafer itu memiliki corak tersendiri dalam memaknai kaligrafi tersebut. Syeikh Syam al-Din al-Afghani menyatakan:
Kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan tata cara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun di atas garis dan bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara bagaimana menggubahnya.
Ada lagi Yaqut al-Musta’shimi (seorang kaligrafer kenamaan pada masa Usman) mengungkapkan bahwa kaligrafi itu sebagai seni arsitektur rohani yang terwujud melalui pengolahan keadaan. Sedangkan Ubaidillah Ibn Abbas mengistilahkan kaligrafi ini dengan “lisan al-Yadd” atau lidahnya tangan.
Selain itu ada pula yang menyatakan bahwa kaligrafi merupakan apa-apa yang ditulis ahli dengan sentuhan kesenian. Kaligrafi melahirkan suatu ilmu tersendiri tentang tata cara menulis, meneliti tentang tanda-tanda bahasa yang bisa dikomunikasikan, yang dibuat secara propesional dan harmonis yang dapat dilihat secara kasat mata dan diakui sebagaimana susunan yang dihasilkan lewat kerja kesenian. Di samping itu ada juga yang mengungkapkan bahwa kaligrafi itu sebagai suatu kepandaian untuk mengatur gerakan ujung jari dengan memanfaatkan pena atau kalam dengan metode atau tata cara tertentu.
Muhammad Thahir ibn ‘Abd al-Qadir al-Kurdi dalam karyanya Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi, pernah mengumpulkan sekitar tujuh macam pengertian kaligrafi atau khath, dan kemudian menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kaligrafi adalah suatu kepandaian untuk mengatur gerakan ujung jari dengan memanfaatkan pena dalam tata cara tertentu. Adapun yang dimaksud dengan pena di sini adalah pusat gerakan-gerakan ujung jari, sementara tata cara tertentu menunjukkan pada semua jenis kaidah penulisan.
Meskipun bermacam-macam pengertian yang dikemukakan oleh para ahli, namun pada dasarnya tujuan ungkapan tersebut mengarah kepada arti tulisan yang indah. Dapat juga dikatakan suatu tulisan yang dirangkai dengan nilai estetika yang bersumber pada pikiran atau ide dan diwujudkan melalui benda materi (alat tulis) yang diikat oleh aturan dan tata cara tertentu. Jadi seni kaligrafi itu sebuah kepandaian menulis tulisan indah dengan mengikuti metode-metode tertentu untuk mempelajarinya.
Pemakaian istilah kaligrafi ini sering juga disebut orang kepada dua istilah. Ada yang menyebut dengan kaligrafi Arab dan ada juga yang menyebutnya dengan kaligrafi Islam. Mengenai istilah kaligrafi Arab ini Ahmad Munawir mengemukakan bahwa pada kata khath itu diberikan kata sifat العربي sehingga menjadi العربي الخط, artinya tulisan Arab. Orang yang menggeluti dan makin dalam menulis tulisan Arab disebut الخطاط (penulis halus).
Memang apabila dilihat dari asalnya kaligrafi ini berasal dari Arab, dan tulisan yang digunakan itu bahasa Arab. Namun tulisan Arab itu berkembangnya setelah Islam datang pada bangsa Arab. Perbedaan pemakaian istilah ini terjadi karena tingkat pemahaman seseorang terhadap kaligrafi itu berbeda juga. Orang yang memakai istilah kaligrafi Arab mengatakan huruf-huruf yang digoreskan lewat pena terdiri dari huruf-huruf Arab. Sementara yang mengatakan istilah kaligrafi Islam mengatakan bahwa sekalipun tulisan yang ditulis tersebut terdiri dari huruf-huruf Arab perkembangannya yang sangat pesat adalah setelah Islam datang.
Kedua istilah tersebut sama benarnya, sebab apabila ditinjau dari sejarah, seni kaligrafi itu memang lahir dari ide “menggambar” atau apa lukisan yang dipahat atau dicoretkan dalam benda-benda tertentu, seperti daun-daun, kulit kayu, tanah dan batu. Akar dari tulisan Arab itu dari Mesir (Kan’an Semit atau Turnesia), dari tulisan Hierogrhaph. Lalu tulisan tersebut terpecah menjadi khath Feniqi (Funisia), dengan cabang-cabang (Arami): Nabati di Hirah atau Hurun dan Sataranjih-Suryani di Irak dan Musnad: Safawi, Samudi, Lihyani, (Utara Jazirah Arabia) dan Humeri; selatannya. Sedangkan Kamil al-Baba mengatakan bahwa pendapat yang paling dipercaya kaligrafi Arab itu diadopsi dari tulisan suku Nabati, ras Arab yang menempatkan wilayah Utara jazirah Arabia, di negeri Yordan dengan ibu kota Puetra. Hal ini berdasarkan bukti-bukti nyata arkeologi (Dinas Purbakala) yang pernah mengadakan penelitian tentang pertumbuhan tulisan. Dalam perkembangan tulisan ini, tulisan musnad yang disebar luaskan oleh suku Maniyah (Minneni) di Yaman yang berpindah ke Arabia Utara. Kemudian dari Musnad ini lalu pindah ke Nabati sampai kedatangan Islam. Untung orang Nabatea meninggalkan sejumlah inskripsi yang tersebar di daerah yang mewakili tahap peralihan yang maju menuju perkembangan huruf Arab.

2. Perkembangan Kaligrafi

Proses menuju kesempurnaan perkembangan kaligrafi Arab sebelum Islam menuju kesempurnaan pada abad ke-3 M, diperkirakan seabad sebelum kedatangan Islam orang Hijaz sudah ada yang mengenal tulisan. Hal ini terjadi karena ada hubungan dagang mereka dengan Arabia Utara dengan Arabia Selatan yang sudah mengenal huruf seperti suku Hunain di Yaman. Mereka ini melakukan perjalanan sambil belajar tulis baca di Syria begitu juga yang lainnya di Ambar Irak. Menurut catatan sejarah di Hijaz hanya ada beberapa orang yang pandai tulis baca yang terdiri dari orang Quraish dan orang Madinah khususnya orang Yahudi.
Kemudian pada abad ke-7 M, terjadi sedikit perkembangan penulisan di kalangan masyarakat Jazirah Arabia. Tulisan sederhana (belum sempurna) telah ada, seperti yang dibuktikan oleh temuan arkeologis (prasasti pada batu, pilar dan seterusnya) di Jazirah Arab. Selain itu sisa-sisa paleorafis (tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit) dapat juga sebagai tanda untuk membuktikan bahwa orang Arab pada zaman itu sudah mempunyai pengetahuan menulis.
Keterlambatan perkembangan ini karena bangsa Arab ini dikenal sebagai masyarakat yang suka berpindah-pindah (nomaden). Mereka tidak terbiasa menulis peristiwa. Jadi sangatlah sulit untuk mencari data tertulis atau prasasti yang membuktikan peta perjalanan sejarah sebuah kemajuan di Jazirah Arab. Mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat daya hafalnya. Jadi tidak diperlukan tulisan untuk menyampaikannya, karena menurut pandangan mereka orang yang menulis itu adalah orang yang mempunyai hafalan yang kurang kuat.
Yang menjadi kebanggaan bagi bangsa Arab pada waktu itu adalah syair. Syair merupakan penalaran paling berharga dalam mengungkapkan makna-makna perasaan hati dan gejolak pikiran. Hal ini karena kehidupan mereka terbiasa di alam bebas, padang pasir yang membentang luas dan terbiasa di alam bebas, padang pasir yang membentang luas dan terbebas dari pengaruh budaya asing, yang menjadikan mereka leluasa dan terlatih untuk menghayalkan apa saja yang mereka alami dalam kehidupan. Kemudian syair-syair tersebut mereka hafal agar mudah disampaikan kapan saja dikehendakinya.
Kebanggaan mereka terhadap syair memang luar biasa. Mereka akan merasa lebih bangga apabila salah seorang dari anggota keluarga atau kebilahnya ada seorang penyair dibanding mempunyai seorang panglima perang. Apabila syair atau pantun itu mendapat nilai paling bagus, maka syair tersebut langsung ditempelkan di dinding ka’bah, sebagai tanda suatu penghormatan yang luar biasa. Menurut literatur Arab, hanya pernah ada tujuh jenis syair pujaan yang disebut al-Mu’allaqat (gantungan) sebagai hasil karya seni sastra maha paling indah dan paling sempurna yang mempunyai nama terhormat, karena ditulis dengan tinta emas. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan tulis menulis itu sudah ada, tetapi masih sangat langka, kecuali saat-saat dibutuhkan.
Itulah sebabnya pada bangsa Arab sebelum Islam datang seni kaligrafi itu berkembang, perjalanannya agak tersendat, lebih dari seribu tahun tidak melahirkan keanekaan, karena mereka tidak membudayakan menulis. Apabila ada syair yang pantas untuk dibanggakan maka barulah orang Arab tersebut menulisnya dan menggantungkannya pada dinding Ka’bah. Memang pada saat itu juga tidak disebutkan mereka menggunakan jenis khath apa dalam menulis tersebut. Tetapi dapatlah dipastikan bahwa kaligrafi Islam tersebut berasal dari tulisan Arab karena tulisannya menggunakan tulisan Arab. Dan tulisan-tulisan yang berkembang di daerah Arab sebelum Islam datang dapatlah dikategorikan sebagai kaligrafi Arab.
Setelah Islam datang tulisan Arab ini mulai berkembang, karena mereka juga dianjurkan menulis dan membaca. Mereka sudah mulai menulis tentang ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits. Apalagi yang mereka tulis itu adalah wahyu allah. Setiap ayat yang telah diturunkan Allah dan mereka terima dari Rasulullah lalu mereka tulis agar lebih mudah mengingatnya. Mereka yang menulis ini biasa sudah ada ditunjuk oleh Zaid bin Tsabit. Bukan itu saja yang menunjang mereke untuk menulis, ternyata ayat yang pertama kali diturunkan itu adalah ayat mengenai perintah untuk membaca dan menulis, sebagaimana yang tertulis dalam surat al-Alaq ayat 1-5
Bacalah dengan nama Tuhan mu yang menciptakan
Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah… !
Dan Tuhan mu Maha Pemurah
Yang mengajarkan manusia menulis dengan kalam
Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa membaca dan menulis itu memang dianjurkan. Semenjak turunnya al-Quran merupakan perkembangan awal kaligrafi ini dimulai. Keperluan untuk merekam al-Quran memaksa mereka untuk memperbaharui tulisan mereka dan memperindahnya sehingga ia pantas menjadi wahyu Allah. Kemudian ayat tersebut disebarkan oleh Rasulullah secara lisan dan kemudian dihafal oleh para hafiz untuk dapat dibaca dalam hati. Tetapi setelah Nabi wafat tahun 633 M, sejumlah hafiz tersebut banyak yang gugur dalam peperangan.
Umar bin Khattab memperingatkan hal tersebut kepada Abu Bakar sebagai khalifah pada masa itu . Pada waktu itu Abu Bakar masih ragu, sebab hal ini belum pernah dilakukan pada masa Rasul. Setelah didesak oleh Umar karena banyak pula terdapat perbedaan dialek bacaan tentang ayat al-Quran ini, lalu Abu Bakar membentuk sebuah panitia dalam penulisan ini yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit yang merupakan juru tulis Nabi sebelum Nabi wafat. Zaid bin Tsabit menyusun dan mengumpulkan wahyu ke dalam bentuk mushaf. Penyusunan ini baru terlaksana setelah masa kekhalifahan Usman bin Affan pada tahun 651 M. Penyusunan yang disucikan ini kemudian disalin ke dalam empat atau lima dalam bentuk edisi yang serupa, kemudian dikirim ke wilayah-wilayah Islam yang penting untuk digunakan sebagai naskah yang penting sebagai kitab buku. Dari sanalah dimulai semua salinan al-Quran dibuat, mula-mula dalam tulisan Mekah dan Madinah, yang merupakan ragam setempat tulisan Jazm, kemudian dalam tulisan Kufah dan selanjutnya dalam sebagian besar ragam tulisan Arab yang berkembang di negeri-negeri muslim.
Selain dari adanya kaitan dengan al-Quran, perkembangan seni kaligrafi ini berkembang dengan pesat juga disebabkan oleh beberapa factor lainnya, sehingga dapat merata di seluruh dunia Islam diantaranya:

1) Karena pengaruh ekspansi kekuasaan Islam, setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Islam telah meluas sampai keluar jazirah Arab. Dengan penyebaran tersebut terjadilah urbanisasi besar-besaran ke wilayah baru dan pertemuan budaya antara Islam dan wilayah taklukan serta adanya proses Arabisasi pada wilayah tersebut.

2) Adanya penamaan nama-nama raja dan kaum elit social. Dalam catatan sejarah bahwa gaya tulisan Tumar (lembaran halus daun pohon Tumar), diciptakan atas perintah langsung dari khalifah Muawiyah (40H/661M-60H/680M). Tulisan ini kemudian menjadi tulisan resmi pada pemerintahan Daulah Muawiyyah.

Ketika pemerintahan Muawiyah kaligrafi ini mulai berkembang, orang terpicu untuk mempelajari tulisan Arab karena adanya system Arabisasi yang diterapkan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Bahasa Arab itu diberlakukan bukan saja khusus untuk bangsa Arab, tetapi pada setiap orang Islam meskipun dia bukan orang Arab diharuskan menggunakan bahasa Arab. Dengan adanya sistem arabisasi menjadikan bentuk tulisan Arab semakin berkembang, sehingga muncul bermacam-macam model tulisan Arab yang baru.
Setelah masa pemerintahan Abbasiyah penulisan kaligrafi ini sudah mulai membudaya. Apalagi pada masa pemerintahan al-Makmum yang sangat menyukai kaligrafi. Pada masa ini juga sudah dimulai penterjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Akhirnya penulisan Arab semakin berkembang, sehingga pada masa ini lahirlah berbagai tokoh kaligrafi yang dikenal.
. Ahli kaligrafi yang terbesar pada zaman Mamluk ini adalah Muhammad Ibnu al-Walid, yang meninggalkan salinan al-Quran yang unik dalam tulisan sulus yang telah disalin ulang pada tahun 1304 M. Untuk seorang pejabat tinggi Baybar, yang kemudian menjadi Sultan Baybar (1308-09). Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan dalam seni kaligrafi dapat menambah prestasi seseorang untuk mendapatkan jabatan.
Ilham Khoiri mengatakan bahwa ada semacam motivasi normatif al-Qur’an yang mendorong kemajuan perkembangan seni kaligrafi ini. Hal ini dapat dibagi kepada empat wujud yaitu adanya perintah untuk belajar menulis al-Quran sebagai al-Kitab dan pengertiannya sebagai maqru, tambahan lagi adanya perintah untuk menuntut ilmu serta larangan menyembah atau memuja patung dan berhala. Tambahan lagi ada hadits nabi yang menyatakan bahwa menulis ayat al-Quran dengan indah itu akan mendapat pahala. Sebagaimana yang dinyatakan oleh:
عن أبو عاصم عن عبد الملك بن عبد الله بن ابي سفيان، عن أمه عمرو بن ابي سفيان، أنه سمع عمر بن الخطاب يقول: قيدوا العلم بالكتابز (رواه الدرمي)
Abu Ashim telah mengabarkan kepada kami dan kemudian dia mengabarkan kepadaku, dari Abdul Malik bin Abdullah bin Abu Sofyan. Dari ibunya Amru bin Abu Sofyan. Sesungguhnya dia mendengar dari Umar bin Khatab bahwasanya Rasulullah bersabda: Kukuhkanlah ilmu itu dengan tulisan.

Factor tersebut yang menjadi pemicu para kuttab untuk menulis al-Quran dengan indah. Secara tidak langsung mereka yang menulis ayat al-Quran dengan indah berarti mereka turut serta mengagungkan al-Quran dan memeliharanya dengan baik. Apabila al-Quran ditulis dengan baik dan indah menjadikan orang senang untuk membacanya. Akhirnya dengan demikian keindahan tulisan tersebut menjadikan suatu motivasi untuk selalu membaca al-Quran, bagi orang yang selalu membaca al-Quran akan mendapat pahala di sisi Allah.
Sumbangan terbesar dari kaligrafi Islam ini adalah Syaikh Hamdullah al-Masi (w. 1502), yang dipandang sebagai pendekar kaligrafi terbesar sepanjang dinasti Usmaniyah. Dia mengajarkan kaligrafi kepada sultan Usmaniyah Bayazid II (1481-1520). Sultan tersebut sangat menghormatinya dan membayarnya mahal untuk setiap tinta yang mengalir, sementara syaikh menulis kalimat-kalimatnya. Begitu besarnya perhatian pemerintah terhadap kaligrafi, sehingga setiap kaligrafer itu senantiasa diberi imbalan yang besar atas setiap karyanya.
Kaligrafernya tidak saja terdapat dari kalangan laki-laki saja, wanita pun sudah ada yang menggeluti dalam bidang seni kaligrafi ini. Padsyah-Khatun salah seorang kaligrafer wanita yang berasal dari Iran berkiprah di Jerman selama empat tahun sebelum kewafatannya tahun 1296 M menguasai kaligrafi. Dia seorang kaligrafer yang mahir menulis kaligrafi yang dikembangkan oleh Yaqut, telah melakukan penyalinan al-Quran. Seni kaligrafi yang berkembang setelah Islam datang ini dapat dikatakan dengan kaligrafi Islam. Karena tulisan yang sering disebut oleh bangsa Arab itu ayat al-Quran. Model-model tulisan Arab yang digunakan pun makin berkembang.
Perkembangan kaligrafi Arab ini tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya peradaban Arab dan munculnya peradaban Islam. Azzahawy mengemukakan bahwa perkembangan kaligrafi itu kepada dua bentuk:
1. Khat yang kaku, yaitu berasal dari bangsa Ibrani. Khat ini digunakan untuk menulis catatan resmi dan surat kabar.
2. Khat yang mulai lentur atau elastic apabila dibandingkan dengan khat sebelumnya, yaitu rangkaian huruf yang berkaitan satu sama lain, seperti khat naskhi. Khat ini dipakai dalam kegiatan sehari-hari dalam bentuk berlobang, bulat dan terbuka.
Kepandaian seni kaligrafi ini tidak banyak dipraktekkan oleh orang-orang yang sezaman dengan Nabi, meskipun sebagian sahabat dan keluarganya sudah ada yang pandai membaca dan menulis. Hal ini karena pada waktu Nabi sendiri tidak pernah mempelajari kepandaian ini. Sedangkan kecendrungan orang pada masa itu pada syair dan prosa dengan menggunakan budaya hafalan. Jadi pada masa itu seni sastra sangat berkembang dan semakin mendapat perhatian dan sering dijadikan kompetisi.
Kemudian setelah Nabi wafat, barulah mereka merasakan kebutuhan untuk menulis. Karena pada masa ini sudah banyak di antara sahabat nabi yang hafal al-Quran dalam peperangan. Lalu Umar bin Khattab mengusulkan agar al-Quran itu dibukukan, karena kuatir al-Quran itu akan hilang secara perlahan. Setelah pada masa Usman barulah berhasil al-Quran itu dibukukan. Menurut catatan sejarah jenis khath yang pertama kali digunakan adalah khath khufi. Dalam bukunya Athlasul Khat wa al-Kutub, Habibullah Fadzoili (1993) mengemukakan tentang gembaran perkembangan kaligrafi Arab Perkembangan tersebut terbagi kepada tujuh periode
a. Periode pertumbuhan. Pada masa ini gaya kufi muncul pertama kali dengan tidak ada menggunakan tanda baca pada huruf tersebut. Kemudian pada abad ke-7 H, lahir pemikiran untuk menggunakan tanda baca oleh seorang ahli bahasa Abu Aswad Ad-Duali yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya sehingga mencapai tahapan kesempurnaan. Pada abad ke-8 H, gaya kufi ini mencapai keelokan sehingga bertahan selama tiga ratus tahun. Bahkan pada abad ke-11 , gaya kufi ini telah memperoleh banyak monumental.
b. Periode pertumbuhan dan perindahan yang dimulai sejak akhir kekhalifahan Bani Umayah sampai pertengahan kekuasaan Abbasiyah di Bagdad. Pada masa ini muncul modifikasi dan pembentukan gaya-gaya lain. Selain gaya kufi pada masa ini merupakan tahapan pertumbuhan dan perindahan. Dan pada masa ini ditemukan enam rumusan pokok (al-aqlam as-Sittah), yaitu Tsulus, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riq’i dan Tauqi’. Selain itu pada periode ini terdapat pula sekitar dua puluh empat gaya khat yang berkembang, bahkan mencapai dua puluh enam gaya khath.
c. Periode penyempurnaan dan perumusan kaidah penulisan huruf oleh Abu Ali Muhammad bin Muqlaq, (w.329H/940) dan saudaranya, Abu Abdullah Hasan bin Muqlaq dengan metode al-Khath al-Mansub (ukuran standar dan bentuk kaligrafi). Pada masa ini Ibn Muqlaq sangat besar jasanya dalam membangun gaya Naskhi dan Tsulus. Di samping itu ia juga memodifikasi sekitar empat belas gaya kaligrafi serta menemukan du belas kaidah untuk pegangan seluruh aliran.
d. Periode pengembangan dari rumusan Ibnu Muqlaq ini oleh Ibn al-Bawwab (w.1022 M), yang berhasil menemukan gaya yang lebih gemulai al-Mansub al-Faiq (pertautan yang indah), yaitu suatu gaya kaligrafi dari gabungan khath Naskhi dan Muhaqqaq. Dia juga menambahkan hiasan pada tiga belas gaya kaligrafi yang menjadi eksperimennya.
e. Periode pengolahan khath dan pemikiran tentang metode hiasan baru dengan penyesuaian pena bamboo, yaitu pemotongan miring pada pena tersebut oleh sang kiblatul kuttab, Jamaluddin Yaqut al-Musta’shimi (w. 698 H/1298 M). Di samping itu beliau juga mengolah gaya al-Aqlam as-Sittah yang masyhur pada periode kedua dengan sentuhan kehalusan penuh estetika serta mengembalikan hokum-hukum Ibnu Muqlaq dan Ibn al-Bawwab. Yakut ini berhasil mengembangkan gaya baru dalam tulisan Tsulus. Pada masa ini para kaligrafer lain juga antusias menciptakan gaya-gaya kaligrafi ini sehingga dalam periode ini mampu menghasilkan gaya kaligrafi sampai ratusan gaya.
f. Periode perkembangan pada masa dinasti Mamluk di Mesir dan Dinasti Safawi di Persia. Pada periode ini muncul tiga gaya baru yaitu ta’liq (farisi) yang disempurnakan oleh kaligrafer Mir Ali (w.1916), dan gaya Sikhatseh (berbentuk terpecah-pecah) oleh khattah Darwisi Abdul Majid. Pada masa ini juga muncul kaligrafer kenamaan di Mesir yang bernama Thab-thab.
Ragam model gaya kaligrafi yang berkembang pada periode perkembangan ini tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan pada masa berikutnya bermunculan para kaligrafer yang tidak kalah hebatnya dan mampu menggores tulisan yang halus dan sarat dengan nilai seni dan keindahan. Demikian juga di Baghdad ditemukan tiga kaligrafer besar yaitu Musthafa Raqim, Syeikh Musa ‘Azmi (lebih dikenal dengan Hamid al-Amidi).
Bentuk model khath yang berkembang tersebut diciptakan oleh tokoh-tokoh kaligrafer itu sendiri. Namun peletakan gaya kaligrafi ini tidak seluruhnya dapat diketahui dengan jelas. Contohnya kaligrafi gaya khufi merupakan gaya kaligrafi yang tertua dan tidak diketahui dengan jelas siapa peletak dan pencipta dari model khath ini. Sedangkan khath Naskhi lahir jelas diketahui siapa peletak pertama dari gaya khath ini adalah Ibn Muqlah , karena kelahiran khath ini sudah tampak sebelum kelahiran Ibn Muqlah, dan beliau juga yang mendewasakan jenis model dari khath ini. Demikian juga halnya khath Diwany pencipta pertamanya Ibnu Munif di Turki (860 H). Gaya Riq’ah diciptakan al-Mutasyar Mumtaz Bek di Turki (1280 H).
Pada awal pertumbuhannya kaligrafi itu tumbuh dan beragam bersifat kursif (lentur dan ornamental) dan sering pula dipadu dengan ornament floral. Model kaligrafi kursif yang tumbuh pada masa itu Tsulus, Naskhi, Muhaqqaq, Riqa’, Raihani dan Tauqi’. Keenam gaya inilah yang dikenal dengan al-Aqlam as-Sittah, atau Sihs Qalam (Persia), atau The Six Hands Styles (Inggris) . Keenam gaya kaligrafi ini mengalami seleksi alam. Di antara jenis gaya kaligrafi tersebut mulai beransur-ansur hilang. Gaya Riq’ah dan Tauqi’ sudah mulai beransur surut dari peredaran, karena luruh dan gayanya berkarakter mirip Tsulus, sementara jenis khath yang lain tetap eksis dan berkembang semakin sempurna. Perkembangan ini mencapai titik kulminasi pada masa pemerintahan Daulah Usmani (sekitar abad ke-16) dan dinasti Safawi di Iran juga dalam periode yang sama.
Pada periode tersebut di Turki juga berkembang jenis gaya kaligrafi Syikatsah, Syikatsah-Amiz, Diwani, Diwani Jali, Riq’ah dan Ijazah. Sementara Farisi (ta’liq) berkembang di Iran. Dari seluruh model tulisan kaligrafi ini, baik dari al-Aqlam as-Sittah maupun yang munculnya belakangan namun yang masih sering dipakai sampai sekarang yakni gaya sulus, naskhi, farisi, diwani, diwani jail, riq’ah, ijazah (raihani) serta model kufi. Perkembangan model-model ini dapat juga dilihat dari perkembangan sejarah. Ilham Khoiri mengelompokkan kepada dua yaitu perkembangan seni kaligrafi sebelum al-Quran turun dan setelah al-Quran diturunkan. Namun yang paling pesat perkembangn model kaligrafi itu adalah setelah al-Quran diturunkan. Karena pada masa ini banyak terdapat seniman, ahli kaligrafi dan peminat dan pencinta kaligrafi yang berasal dari kabilah-kabilah. Hal ini dikarenakan terdapatnya keindahan pada seni kaligrafi yang dapat mengokohkan peradaban yang dibutuhkan. Perkembangan seni kaligrafi tersebut ada yang bersifat hiasan dan ada juga yang bersifat kaidah. Kaligrafi yang pertama digunakan sebagai hiasan tersebut adalah khath khufi, seperti yang terdapat pada arsitektur bangunan. Sedangkan yang bersifat kaidah itu seperti Sulus, Riq’ah, dan Naskhi.


http://www.infogue.com/viewstory/2008/07/22/kaligrafi_dan_perkembangannya/?url=http://moethmainnah.wordpress.com/2008/07/16/kaligrafi-dan-perkembangannya/

Jumat, 01 April 2011

Nilai Sekolah Tahun 2011

Bagi Anda yang butuh Format Nilai Sekolah tahun 2011 klik aja link berikut ini :
http://www.ziddu.com/download/14429844/BlangkoNilaiUjiansekolah2011.rar.html

Minggu, 26 Desember 2010

Ismail Kadir bersama Didin Sirajuddin di LPMP Jakarta


Poto bersama Ust Didin Sirajuddin saat Ana mengikuti TC di LPMP Jakarta Selatan. TC ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan Kafilah Sulawesi Tenggara Mengikuti MTQ Nasinal XXI di Kendari tahun 2006

Ismail Kadir Bersama Didin Sirajuddin di Palu


Poto Bersama Ust Didin Sirajuddin Saat ana mengikuti MTQ Nasional XIX Tahun 2000 di Palu Sulawesi Tengah

Ismail Kadir bersama Didin Sirajuddin


Poto bersama Ust Didin Sirajuddin Saat Ana mengikuti MTQ Nasional XX di Palngkaraya tahun 2003