Kaligrafi Dekorasi
Selasa, 26 Maret 2013
Rabu, 13 Maret 2013
PESANTREN DAN PERDAMAIAN REGIONAL
Sabtu, 16 Juni 2012
Hiasan Mushaf MTQ Prov DKI Tahun 2012
Inilah Salah satu Hasil Karya Hiasan Mushaf Pada MTQ Prov DKI Jakarta Tahun 2012Harga per CD Rp. 90.000 + 10.000 (ongkos kirim)
Jumlah total : Rp 100.000
Bagi antum yang tertarik atau berminat memiliki Koleksi tersebut Silahkan Hubungi Ismail Kadir HP 085280461373
Minggu, 20 Mei 2012
Musik Bambu MTs Pesri Siap Unjuk Gigi
Rabu, 11 April 2012
SEKITAR PERHAKIMAN DAN PEMBINAAN KALIGRAFI MUSABAQAH KHAT AL-QUR’AN (MKQ)
Musabaqah Khat Al-Qur’an (MKQ) adalah cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang menekankan kepada kemahiran menulis dan/atau melukis ayat-ayat Al-Qur’an. MKQ yang bertujuan mendidik untuk melahirkan para khattat dan pelukis kaligrafi mahir dan profesional, memiliki peranan dan fungsi dalam kehidupan individu dan sosial pesertanya. Dalam fungsi-fungsi individual, MKQ berperan sebagai sarana komunikasi, sumber usaha, dan wahana ekspresi yang penuh nilai estetika. Sedangkan dalam fungsi-fungsi sosialnya MKQ membuka jalan dan mendorong semakin banyak digunakannya kaligrafi untuk segala kepentingan seperti dekorasi mesjid dan panggung-panggung atraksi, penulisan buku-buku pelajaran, mushaf Al-Qur’an, majalah, koran, dan sarana-sarana informasi tekstual dan visual seperti advertensi dan pameran. Kaligrafi juga difungsikan untuk medium-medium seni dan sarana peralihan kebudayaan dan peradaban.
Dalam rentang waktu tersebut, telah terjadi perubahan dan kemajuan kualitas estetis karya peserta seiring modifikasi-modifikasi aturan musabaqah. Keadaan tersebut mendorong diperlukannya pembinaan perhakiman dan pelatihan peserta yang intensif dan terstruktur untuk pengembangan cabang MKQ terlebih pengembangan kaligrafi secara lebih khusus di seluruh wilayah Indonesia.
Penampilan dan Masalah Perhakiman
Beberapa karakter yang merupakan “plus-minus” cabang MKQ menonjol antara lain dalam beberapa hal berikut:
- Peralatan musabaqah yang rumit dan beragam terdiri dari aneka jenis kalam dan cat dengan aneka medianya seperti kertas dan triplek.
- Waktu pengerjaan yang panjang (6 sampai 8 jam)
- Hasil karya yang permanen sehingga dapat dilihat dan dinilai secara terbuka oleh semua pihak setiap saat.
- Mengenal baik peralatan musabaqah (dari ukuran dan potongan kalam hingga warna-warna primer dan tertier cat pilihan peserta) karena menentukan kualitas hasil karya.
- Menilai dengan cermat dan tidak terburu-buru dengan “menyisir” semua karya secara berulang untuk mengklasifikasi karya-karya terpilih dan tersisih.
- Sanggup menentukan secara tepat karya-karya unggulan berdasarkan pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, dan evaluasi, sehingga dapat menghindarkan kontroversi dan klaim dari semua pihak.
- Sanggup menerangkan alasan-alasan di balik pemilihan karya-karya unggulan dan menjelaskan kelebihan serta kekurangan setiap karya yang dinilainya.
- Menguasai gaya-gaya khat yang dilombakan (Naskhi, Sulus, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Kufi, dan Riq’ah).
- Berwawasan luas dalam bidang seni rupa (teori warna, teori garis, unsur komposisi, unsur bentuk, ornamen, dan arabesk).
- Peserta semakin menguasai huruf-huruf untuk aliran-aliran khat yang dilombakan.
- Ornamen yang digunakan pada Golongan Hiasan Mushaf dan Dekorasi rata-rata bagus, semakin variatif, dan kaya nuansa.
- Peserta semakin memahami aturan dan teknik musabaqah yang nampak baik dari ketepatan hasil karya dengan isyarat soal maupun pedoman musabaqah.
- Pendidikan rata-rata peserta meningkat dengan mayoritas mahasiswa, sehingga memperkaya wawasan dan gagasan yang dapat dilihat dalam karyanya yang semakin bermutu.
Untuk itu, Dewan Hakim MKQ harus memiliki ilmu yang memadai dan menguasai teknik tentang obyek yang dinilai, sehingga hasil penilaiannya obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Teknik Penilaian
Berdasarkan Pedoman Perhakiman Cabang Khat Al-Qur’an, Dewan Hakim MKQ menilai dua sub pokok materi, yaitu huruf dan ornamen untuk tiga golongan musabaqah, yaitu:
- Golongan Naskah (penguasaan huruf)
- Golongan Hiasan Mushaf (penguasaan huruf dan ornamen)
- Golongan Dekorasi (penguasaan huruf dan ornamen).
Penilaian huruf diarahkan kepada:
- Bidang kebenaran kaedah mencakup: bentuk dan proporsi huruf, jarak spasi dan letak huruf, serta keserasian dan komposisi huruf untuk gaya-gaya khat Naskhi, Sulus, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Kufi, dan Riq’ah yang dilombakan.
- Bidang estetika atau keindahan khat mencakup: kekayaan imajinasi dalam mengolah, kebersihan, dan kehalusan.
- Mencermati kecenderungan peserta yang memilih “mazhab guru” atau gaya-gaya yang disukainya (seperti gaya Hasyim Muhammad al-Baghdadi, Hamid al-Amidi, Muhammad Syauqi, Muhammad Izzat, Mustafa Gazlan Bek atau Mustafa Raqim untuk pola-pola goresan huruf yang menandakan perbedaan stil dan orientasi).
- Penilaian Ornamen atau hiasan diarahkan kepada:• Bidang keindahan hiasan mencakup: kekayaan imajinasi dan tatawarna, keserasian format, kebersihan, dan kehalusan.• Mencermati kecenderungan peserta yang memilih ragam hias Nusantara, arabesk, atau kombinasi warna yang beranekaragam yang menandakan wawasan rupa yang berbeda-beda.
- Bobot nilai Golongan Naskah maksimal 100 (Kebenaran Kaedah Khat 60 dan Keindahan Khat 40).
- Bobot nilai Golongan Hiasan Mushaf dan Golongan Dekorasi masing-masing maksimal 100 (Kebenaran Kaedah Khat 35, Keindahan Khat 25, dan Keindahan Hiasan 40).
- Penilaian seluruh karya secara serentak memudahkan mengklasifikasi karya-karya unggulan dan karya-karya tersisih: dimulai pada babak penyisihan dengan memilih 10 besar, kemudian 6 besar, terakhir 3 besar. Pada babak final, urutan 1, 2, dan 3 ditentukan dengan keriteria dan cara penilaian yang sama.
- Karya-karya yang dipampang di satu lokasi lomba dapat dilihat secara jelas sehingga dapat diketahui yang bagus dan tidak bagus secara jernih.
- Lamanya waktu tak terbatas selama penilaian, memberi kesempatan mengulang atau mengevaluasi ulang penilaian, sehingga hasil akhir penilaian benar-benar obyektif dan akurat.
- Proses penilaian dengan waktu tak terbatas dan berulang-ulang yang menghasilkan angka-angka obyektif dan akurat ini menunjukkan tim penilai MKQ sangat bisa kualified, professional, dan proporsional.
Mengingat banyaknya persoalan berkenaan dengan masalah kemampuan, banyak cara mengupgrade Dewan Hakim MKQ, baik secara terkordinasi oleh lembaga yang berkompeten sepeti LPTQ maupun dengan cara belajar mandiri. Beberapa hal berikut dapat dijadikan kunci untuk mencapai tujuan tersebut:
- Mengadakan kaderisasi Dewan Hakim MKQ melalui penataran-penataran atau pemberian tugas-tugas PR (seperti pembuatan karya-karya yang menggambarkan tugas MKQ) yang diperiksa oleh tim ahli tunjukan LPTQ.
- Pendalaman wawasan yang diusahakan oleh hakim sendiri dengan membaca sebanyak mungkin buku-buku kaligrafi dan merekonstruksi hasil karya peserta MKQ di arena musabaqah. Cara terakhir dapat dibuat melalui dokumentasi foto untuk diketahui desain, gaya, dan orientasinya masing-masing.
- Untuk memperdalam bahasa rupa dan iluminasi atau ornamen, cara yang tepat adalah dengan studi banding dan pengamatan atas karya-karya seni rupa atau lukisan di buku-buku atau katalog-katalog seni rupa, dekorasi di dinding-dinding masjid, ragam iluminasi mushaf Al-Qur’an, dan pameran-pameran seni rupa.
- Keterlibatan hakim (berdasarkan keahliannya di bidang kaligrafi) dalam pembinaan kader-kader daerah akan membantu meningkatkan pengetahuan dan keahliannya.
- Memperbanyak dialog dengan para khattat, pelukis, dan ahli seni dalam rangka konsensus menentukan suatu karya yang bagus, ideal, dan sesuai dengan norma-norma musabaqah.
Metode Pembinaan Kaligrafi
Kaligrafi yang dilombakan dalam MKQ memiliki tujuan-tujuan pengajaran, pendidikan, estetis, praktis, dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut diperlukan metode yang intensif dan terstruktur, sehingga pengembangannya menjangkau seluruh elemen yang mencakup pembentukan kader, rotasi kegiatan yang kontinyu, dan membuahkan hasil yang kongkrit.
Jangkauan pengembangan ini, jika disimpulkan, mencakup pembinaan “tiga pilar kaligrafi” sebagaimana dikatakan oleh Ali ibn Abi Thalib:
اَلخَطُّ مخْفِيٌّ فى تَعْلِيْمِ اْلأُسْتَاذِ، وَقِوَامُهُ فى كَثْرَةِ اْلمَشْقِ، وَدَوَامُهُ عَلى دِيْنِ الإِسْلاَمِ
“Kaligrafi itu tersirat dalam pengajaran guru, tegak profesionalnya tergantung banyak latihan, dan kekekalannya adalah pada pengamalan agama Islam.”
Ini berarti pembinaan harus diarahkan kepada tiga hal:
- Guru, pelatih, instruktur, official, atau juri kaligrafi yang mumpuni karena akan menentukan sukses tidaknya pembinaan.
- Latihan-latihan gencar dan intensif murid di bawah bimbingan gurunya.
- Menjamin tambah profesionalnya pembinaan dengan lahirnya hasil karya untuk pelbagai kepentingan agama seperti lukisan kaligrafi Al-Qur’an atau kegiatan MTQ.
1. Pembinaan Jangka PendekJangka waktunya 1 (satu) tahun dan diarahkan untuk menciptakan pelbagai aktivitas kaligrafi tahunan seperti pada MTQ Tingkat Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, dan Propinsi dan lomba-lomba kaligrafi pada Peringatan Hari-hari Besar Islam dan Nasional.
Pembinaan untuk kepentingan jangka pendek ini dikelola oleh Pemda Tingkat Desa/Kelurahan, Kecamatan, dan Kabupaten/Kota dengan agenda pelatihan kader peserta, pelatih, dan dewan hakim kaligrafi Tingkat Desa/Kelurahan, Kecamatan, dan Kabupaten/Kota menjelang pelaksanaan kegiatan.
2. Pembinaan Jangka Menengah
Jangka waktunya 2 (dua) tahun dan difokuskan untuk meraih prestasi Nasional dan Internasional dalam pelbagai event lomba dan perhelatan akbar kaligrafi seperti MTQ Nasional, Pospenas, MTQ Mahasiswa Nasional, dan lomba-lomba kaligrafi berskala ASEAN di Brunei Darussalam dan Internasional di Turki. Kegiatan pembinaan jangka menengah ini dikelola oleh Pemda Tingkat Propinsi termasuk untuk kegiatan yang bersifat pendelegasian atas nama Pemerintah Pusat.
Konsentrasi pembinaan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang mencakup:
- Seleksi kader MTQ Nasional duta Propinsi melalui pemusatan latihan berjenjang.
- Pelatihan para calon peserta Peraduan Menulis Khat ASEAN dan International Calligraphy Competition.
- Seleksi dan pelatihan duta Pospenas dan MTQ Nasional Mahasiswa.
- Mengadakan penataran official, pelatih, dan Dewan Hakim kaligrafi.
Jangka waktunya 5 (lima) tahun dan merupakan pembinaan permanen yang dilaksanakan di seluruh institusi pendidikan dan latihan (diklat) yang berkompeten. Pengelola program ini adalah Pemda Tingkat Propinsi bekerjasama dengan lembaga-lembaga diklat professional.
Pusat-pusat pembinaan jangka panjang ini ialah:
- Sekolah dan perguruan tinggi dengan memasukkan kaligrafi sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) dan ekstra kurikula.
- Sanggar-sanggar kaligrafi untuk dijadikan tempat latihan berkarya.
- Masjid dan beberapa lembaga pendukungnya seperti DKM, BKPRMI, dan majlis ta’lim untuk rekrutmen peserta binaan.
Pembinaan jangka panjang yang diplot untuk “waktu seterusnya” merupakan “pembinaan semesta” yang mencakup seluruh aspek perkaligrafian yang dibutuhkan. Agendanya terdiri dari:
a). Kegiatan primer, mencakup pembelajaran kaligrafi di sekolah/perguruan tinggi dan latihan di sanggar kaligrafi. Materinya adalah:
- Pendalaman huruf dan penguasaan seluruh aliran kaligrafi.
- Penguasaan aneka teknik melukis dengan segala bahan.
- Pengembangan skil untuk membuat karya-karya di pelbagai media (seperti kertas, kanvas, kaca, kayu, stucco, dan lain-lain).
- Pameran atau pergelaran kaligrafi untuk melatih apresiasi khattat dan penonton, sekaligus sebagai ajang penjualan karya.
- Lomba kaligrafi antar pelajar dan mahasiswa peserta pembinaan sebagai ajang peningkatan mutu karya dan latihan berkompetisi.
- Forum diskusi seni untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman seni, budaya, dan sejarah Islam agar peserta terdorong lebih kreatif berkarya.
- Rekreasi seni dengan kegiatan melukis di alam terbuka seperti pantai atau gunung, demonstrasi kaligrafi di muka umum, dan kunjungan ke pameran dan tokoh kaligrafi.
- Kewirausahaan dengan memasarkan karya hasil produksi peserta.
Begitu besarnya minat kaula muda terhadap kaligrafi, sehingga pembinaannya terasa amat mendesak. Potensi tersebut berimplikasi tidak hanya kepada perlunya pembinaan para pelajar muda tersebut, tetapi juga kepada para guru, pelatih, official, dan Dewan Hakim yang secara langsung terlibat di dalamnya.
Karena itu pembinaan tersebut harus menyeluruh dan sepanjang waktu meliputi semua aspeknya, dan pelaksanaannya tidak setengah-setengah atau hanya untuk kepentingan temporer seperti MTQ Nasional yang tidak datang setiap saat.
Jika pembinaan dilaksanakan serentak untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, maka akan lahir kader-kader yang tangguh sehingga mekanisme kegiatan kaligrafi apa pun akan mudah dilaksanakan dengan hasil sesuai harapan.
Insya Allah.
*Disampaikan pada acara Pelatihan Dewan Hakim Kaligrafi se-Provinsi Riau, 14-15 Desember 2007, di Pekanbaru
Minggu, 18 Maret 2012
H.M. Faiz Abdul Razaq
Mushaf Istiqlal yang dibuat HM. Faiz Abdul Razaq diyakini banyak orang sebagai mushaf terindah di dunia. Bill Clinton sampai berhasrat menyaksikan langsung. Kerajaan Saudi Arabia pun mengundangnya ke istana untuk jamuan khusus para khattat.
Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Setiap anak pun mewarisi bakat orangtuanya. Begitulah bakat yang dimiliki Ustadz Faiz. Dirinya telah mewarisi bakat yang dimiliki abahnya. “Al ilmu nurun. Ilmu itu nurun, jadi bukan ilmu itu cahaya. Ayah saya kaligrafer otodidak, dan bakatnya menurun pada saya,” kelakar sulung dua belas bersaudara ini.
Ustadz Faiz adalah seorang kaligrafer “emas” yang pernah dimiliki Indonesia. Dia dilahirkan di desa Lengkong Ulama Tangerang Prov. Banten pada 11 November 1938. Muhammad Faiz menekuni khat sejak usia dini. Dia Putra dari seorang pioneer khat di Indonesia, KH. M. Abdul Razzaq (alm). Dari beliaulah dirinya belajar. Sejak usia 15 tahun Faiz sudah membantu sang abah menulis kitab-kitab berbahasa Arab atau tulisan Arab bahasa Melayu, Sunda, Jawa dan Madura (tulisan pego/Melayu Arab).
Sejak kecil Faiz tidak diajarkan abjad ABCD. Abahnya hanya mengajarinya huruf Arab: alif, ba, ta, tsa. Sejak bangun tidur, dia diajak shalat, lalu mengaji. Kadang-kandang orangtuanya agak keras mendidiknya. “Kalau tidak hafal saya dicambuk. Tapi semua itu saya kenang indah sekali sampai sekarang,” ucapnya lirih menahan airmata. “Apa yang saya rasakan sekarang adalah buah kesungguhan didikan orangtua,” tambahnya.
Bakat Faiz baru terlihat ketika dirinya berusia 14 tahun dan duduk di bangku SMP. Sebab nyatanya, tulisan Faiz saat masih duduk di bangku MI sangatlah jelek. Bahkan tulisannya sempat diejek murid ayahnya. Namanya Abdullah Alatas, seorang khattat yang bekerja di Departemen Penerangan RI bidang Seksi Bahasa Arab. Suatu ketika dia berkunjung ke rumahnya untuk setor tulisan kepada KH. Abdul Razaq. “Saya dilecehkan. Dia memanggil saya, lalu meludahi tangan saya sambil berkata, kamu gak ada potongan jadi penulis khat,” ucapnya kesal.
Perasaan jengkel itu dipendamnya hampir lima tahun lamanya. Tapi, ejekan itu pula yang melecutnya untuk lebih giat belajar khat. “Pada akhirnya saya menyadari bahwa dirinyalah yang memacu semangat belajar saya,” ujarnya. “Hingga sekarang pun, setelah shalat saya masih mendoakan dirinya agar mendapat tempat di sisi-Nya,” tambahnya.
Tahun 1952, keluarganya pindah ke Malang. Abahnya yang tadinya bekerja sebagai pegawai negeri, lebih memilih keluar dan menjadi penulis khat untuk penerbit Salim Nabhan Surabaya. Karena permintaan dari penerbit yang begitu banyak dan butuh cepat, Abahnya meminta Faiz untuk membantunya. “Saya pun mulai belajar khat pada Abah. Dan intinya adalah praktek,” tuturnya. Sejak itulah dirinya berkembang cepat dan matang menulis khat.
Ketika duduk di bangku SMP kelas 3 bagian ilmu pasti dan ilmu alam, kepala sekolah memanggilnya dan mengatakan, “Faiz, melihat potonganmu, saya punya firasat kamu gak ada potongan di umum.” “Baru empat bulan sebagai siswa kelas 3, saya disuruh ikut ujian PGAP dan lulus dengan hasil sangat memuaskan. Jadi saya meloncat dua tahun,” paparnya.
Faiz pun lantas melanjutkan studinya di SGHA (Sekolah Guru Hakim Agama) di Malang. Mengingat banyaknya guru-guru hakim agama yang dibutuhkan, guru-gurunya di SGHA meminta dirinya untuk langsung mengikuti ujian. Padahal dirinya baru setahun sekolah. Para guru memilih dirinya karena dianggap paling menonjol. “Saya pun kembali meloncat dua tahun,” ucapnya. Setelah lulus tahun 1958, Faiz pun melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Gontor. Lagi-lagi, waktu pendidikan di Gontor yang harus ditempuh selama 6 tahun, hanya dilaluinya dalam waktu 2 tahun 8 bulan.
Selama mondok itu pula, Faiz masih tetap membantu abahnya menulis khat untuk penerbit Salim Nabhan Surabaya. Al-Qur’an yang sudah rusak, dia preteli untuk kemudian ditusir. “Yang kurang hitam saya hitamin. Wawu yang buntu saya bolongi pakai tinta putih,” ujarnya. Akibat ulahnya itu, dirinya sempat dianggap stress oleh santri lainnya dan diadukan kepada Kyai Imam Zarkasi.
Tapi sejak laporan itu, Faiz malah diangkat menjadi santri “khusus”. Dia tidak lagi makan di dapur pesantren dengan menu 4 T: tempe, tahu, tewel dan terong. Karena dirinya telah diangkat sebagai guru khsusus khat. “Selain nyantri, saya juga guru,” katanya sambil senyum dikulum. Di antara buku pelajaran Gontor yang ditulisnya, adalah buku wajib al-Fiqhul wadlih karangan Prof. Dr. mahmud Yunus.
Selain belajar pada ayahnya, Faiz juga belajar khat pada ‘amidul khattathin Sayyid Ibrahimi dari Mesir. Dia adalah guru besar para kaligrafer. Uniknya, Faiz belajar melalui media surat menyurat.
Lulus dari Gontor Faiz mulai mengajar bahasa Arab, Khat dan Tarikh di MAN Bangil, Pesantren Wachid Hasyim, Persis, Sidogiri dan YAPI. Faiz menikah dan tahun 1973 dan memiliki 3 anak. Tapi hasil dari mengajar, masih belum mencukupki kebutuhkan hidupnya. Tahun 1979, dirinya mendapat beasiswa belajar di King Abdul Aziz University, Jeddah mengambil Fakultas Tarbiyah. “Saat kuliah saya malah dapat menghidup keluarga. Sebab penghasilan saya waktu itu sampa 5 ribu real,” tutur pria yang pernah juara II Khat Tingkat Internasional di Jeddah Saudi Arabia tahun 1979 ini.
Selain belajar, dirinya juga bekerja sebagai khattat/desainer di Al-Farouqi Advertising Jeddah, Al Itimad Print Press Jeddah dan Deplu Kerajaan Saudi Arabia di Jeddah. Faiz pun berkesempatan mengunjungi Sayyid Ibrahimi di Mesir dan mendapatkan ijazah langsung darinya. Faiz pun mengasah kemampuan khatnya dengan master-master khattat dari Turki, Iran maupun Mesir.
Sepulang dari dari Saudi Arabia, Faiz mendapat ujian begitu berat. Dirinya terserang penyakit pembuluh darah selama delapan bulan. Semua miliknya ludes untuk berobat. Termasuk TV, video, radio hingga perhiasan istrinya habis terjual. Dalam kepedihan itu Faiz mulai instrospeksi dan berdoa. “Ya Rabb, saya bekerja di tanah suci, saya kerja halal, menulis dan menulis. Kenapa saya dicoba begini,” renungnya waktu itu. “Saya hampir tidak kuat waktu itu,” tambah Alumnus Pesantren Tinggi Ilmu Fiqh dan Dakwah Bangil Jatim itu.
Akhirnya di suatu malam, dirinya mendapatkan suatu jawaban. Dirinya teringat sebuah hadits, “Barangsiapa yang menyimpan ilmu, maka kelak pada hari kiamat Allah akan menjadikannya kendali dari neraka.” “Saya pun menangis. Ternyata saya tidak mengamalkan ilmu saya,” tukasnya. “Ilmu khat, serta ilmu yang saya peroleh dari mondok dan kuliah maupun madrasah dulu harus diamalkan,” tekad Penyuluh Utama Khat di Kanwil Kementerian Agama Prov. Jatim ini.
Dia pun mulai kembali merambah karir di dunia khat dan mengajar. Tahun 1984 dirinya dipanggil oleh darul fikr, Beirut perwakilan Jakarta sebagai penerjemah dan korektor. Faiz juga diangkat sebagai pegawai Saudi Arabia sebagai Dai/dosen bahasa Arab yang diperbantukan di beberapa pesantren di Jatim oleh Atase Agama Kedubes Saudi Arabia di Indonesia.
Tahun 1991, dirinya diminta abahnya untuk menggantikan dirinya menyelesaikan proyek mushaf Istiqlal. “Saat itu ayah sudah udzur dan sakit-sakitan. Saya sempat menolaknya, tapi abah tetap bersikukuh agar saya menggantikannya,” ujarnya. Amanah itu segera dilaksanakaannya. Sebagai desainer kaligrafi, Faiz dibantu 5 orang khattat. Sedangkan untuk ornament dia dibantu para seniman desain grafis ITB dibawah koordinasi Prof Dr Ade Firus dan Drs. A. Haldani.
Tak disangka, mushaf Istiqlal rampung dengan begitu indahnya. Sampai-sampai berita keindahannya didengar oleh Presiden Amereka Serikat waktu itu, Bill Clinton. Tahun 1995, Clinton datang ingin menyaksikan langsung keindahan mushaf yang dianggap terindah di dunia itu. Faiz pun bertemu Clinton dengan didampingi Menag RI Tarmizi Taher.
Setelah itu, Faiz mulai menulis Mushaf Sundawi dan melaksanakan proyek kaligrafi masjid. Diantaranya, Masjid Nasional Istiqlal Jakarta, Masjid At-Taqwa Sririt Bali Utara, Masjid Agung Bengkulu, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Masjid Baiturrahman PKT Bontang Kaltim, Masjid Agung Tuban, Masjid Agung Nurul Falah Kaltim, Masjid Islamic Center Samarinda Kaltim, Masjid Agung Bangkalan Madura, maupun Masjid Baitul Hamdi Pemprov Jatim.
Tahun depan, Ustadz Faiz menjadi satu-satunya khattat dari Indonesia yang diundang oleh Kerajaan Saudi Arabia untuk menerima penghargaan bersama para khattat seluruh dunia. “Intinya dalam menulis khat itu, adalah keikhlasan,” ujarnya. “Hasil karya mencerminkan jiwa sang pembuat. Seindah apa pun karya itu, tapi jika tak memiliki ruh, tetap seperti benda mati. Ikhlas adalah ruhnya,” tambah Dewan Hakim MTQ nasional ini. Ded
Sumber : http://ruangbening.wordpress.com/2010/10/04/hm-faiz-abdul-razaq/
Kamis, 01 Maret 2012
Pesantren Ummusshabri Peringati Maulid
Sikap Rasulullah dalam nilai pendidikan bukan sekedar teori, tetapi patut diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya memberikan pemahaman nilai pahala sedekah, harus dibarengi dengan amaliyahnya.
Demikian dikatakan DR.Supriyanto,MA dalam pengantarnya. “Tabungan investasi akhirat melalui sedekah akan sangat bermakna, apalagi jika dilakukan untuk membangun pendidikan agama. Pesantren Metropolitan Ummusshabri Kendari memberikan kesempatan bagi dermawan untuk melanjutkan Proyek Amal Jariyah yang sudah berjalan selama kurang lebih Dua tahun. Hal ini akan lebih membuktikan kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW melalui sikap kedermawanan beliau,” ujarnya.
Maulid Nabi yang juga dihadiri Walikota Kendari, Ir.H.Asrun,M.Eng, semakin mempererat suasana silaturrahmi antara sesepuh pondok, dewan kiyai, santri beserta orang tua santri.
Di sela sambutanya DR.Supriyanto meminta kesediaan bapak Walikota Kendari Ir. H. Asrun, M. Eng. untuk membawakan hikmah maulid. Materi hikmah maulid yang disampaikan oleh bapak walikota tidak hanya berorientasi pada pemahaman dan pengamalan ilmu al-Qur’an. Tapi bagaimana membentuk zikir (heart), pikir (head) dan ukir (hand) pada jiwa manusia, sehingga ibadah dilakukan sebagai bukti cinta kepada Allah dan ajaran rasulnya. Mencintai akhlaq Nabi Muhammad SAW akan mudah dipahami dengan mengidolakan kepribadian sikap beliau.
Sumber : http://sultra.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=70946
