Sabtu, 16 April 2011

Didin Sirajuddin AR

Didin Sirajuddin AR

Didin Sirojuddin Abdul Rozaq lahir di desa Karangtawang, Kuningan, Jawa Barat, 15 Juli 1957. Ayahnya, H. Abdur Rahman adalah mantri kesehatan di RSU ’45 Kuningan, yang karena perjuangannya di desa, terpilih menjadi kepala desa (Kuwu) Karangtawang selama 11 tahun (1968-1979). Ayahnya H. Abdur Rahman, Surawidjaya juga kepala desa di daerah pegunungan Cipakem selama 30 tahun. Selain mendirikan Pondok Pesantren Al-Abshori, H. Abdur Rahman juga termasuk pelopor berdirinya Madrasah Tsanawiyah Karangtawang bersama guru kesayangannya Kyai Abdullah. Ibunya, Hj. Sukrinah, datang dari keluarga pesantren tua dan terbesar di Kabupaten Kuningan, yaitu Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin pimpian KH. Uci Syarifuddin di desa Lengkong bersebelahan desa Karangtawang. Perintis pesantren ini, Hasan Maolani, yang dikenal dengan sebutan eyang Minado, adalah waliyullah pejuang kemerdekaan RI yang dibuang Belanda ke Manado dan berjumpa dengan Pangeran Diponegoro di pembuangan sekitar tahun 1830-an.

Sejak sebelum SD, Didin sudah melukis, biasanya dengan mencoreti apa saja termasuk dinding rumah dengan arang dapur. Ia juga memanfaatkan arang kuali dan blendok lampu untuk menulis halus dengan pena kodok yang ditancap ke gagang kalam. Menurut guru SD-nya, E. Sarip, bakat melukis Didin menurun dari ibunya yang juga sealumni dengan Sarip di SD yang sama tahun 1940-an. Kakek Didin dari ibunya, yaitu Ahmad Sadili yang dipanggil Mbah Pio karena kecilnya Ahmad Supio, adalah tukang kayu kreatif yang pandai mengukir pintu dan jendela rumah.

Yang lebih aneh lagi, sembilan saudaranya bisa menggambar walaupun mereka tidak diajari oleh Didin. Ia juga tidak mengajari mereka menulis khat (kaligrafi). Tetapi agaknya sebagian adik-adiknya itu mengikuti saja apa yang dilakukan kakaknya dalam melukis dan menulis kaligrafi.

Lazimnya orang mabuk, hari-hari selama di SD (sebelumnya Sekolah Rakyat/SR) Didin disibukkan oleh kerja menggambar. Padahal sore hari harus belajar di Madrasah Diniyah. Usai sholat Maghrib mengaji al-Qur’an dan kitab kuning kepada ayahnya yang guru ngaji di kampungnya. Pada malam-malam tertentu, ikut pendalaman kitab di Kyai Muhyiddin, Lengkong. Setiap Ahad, bersama beberapa kawannya belajar tilawah (lagu al-Qur’an) di Kyai Jemod di desa Ciporang, edngan berjalan kaki sepanjang 6 km.

Gambar manusia dipelajarinya juga dari komik-komik. Ia terkesan buku komik Gibraltar karya Alyson SR dari Surabaya dan komik-komik tentang kebiadaban orang-orang PKI di tahun 1960-an. Komik-komik wayang karya R. Kosasih sudah dibacanya juga waktu itu. Semuanya ditiru habis dengan menggunakan pena kodok dan tinta hitam dari arang kuali. Tapi gurunya di bidang gambar manusia ini, seperti diakuinya adalah Empud Mahfud, guru agamanya, dan Fuad Fauzi, kawannya dari Bogor saat nyantri di Pondok Modern Gontor. Kemahirannya menggambar peta dipelajarinya dari sebuah peta tua susunan R. Boss yang ditemukan ayahnya si selipan kitab-kitab kuning di lemari bukunya.

Didin tidak terlalu prestisius. Ia hanya pernah dapat hadiah uang untuk beberapa gambar orang sholat di sekolahnya yang dibelikannya seekor kambing. Hobinya yang susah dibendung ini hanya menyisakan rasa senang pada mata pelajaran sejarah dan mengarang, dan setengah benci pelajaran berhitung. Bahkan ketika menyangkut angka-angka perhitungan hasil usaha pun, ia tidak tertarik karena katanya:“Cuma ngitung uang siluman.” Didin juga berterus terang: “Dari 20 soal berhitung, kadang-kadang dua yang betul. Sisanya yang salah, tolonglah dijumlahkan ada berapa?” Saat nyantri di Gontor, ia juga sering dapat nilai satu untuk pelajaran ilmu hisab (aritmatika). Rupanya angka itu dianggapnya “angka juara” karena Didin selalu ingin menjadi pelopor di bidang yang digelutinya. Di desa Karangtawang tahun 1960-an, mungkin hanya ada tiga anak muda yang pandai menggambar. Selain Didin sendiri, dua lainnya adalah Uung masyhuri dan Yano Suharyono anak kepala SD Karangtawang Ehon Sahar. Tapi Didin sangat dikenal sebagai pelukis di kalangan guru-guru dan kawan-kawannya saat itu. Hanya soal tulisan Arab, meskipun goresannya bagus, Didin belum tahu sama sekali prinsip-prinsip kaligrafi yang benar yang saat itu memang belum populer.

***

Didin seharusnya termasuk murid angkatan pertama di Madrasah Tsanawiyah yang dirintis ayahnya. Ayahnya justru berkampanye masuk sekolah itu, tapi anaknya malah diarahkan untuk nyantri ke Pondok Modern Gontor, Jawa Timur tahun 1969. Tetapi di pesantren modern pimpinan KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi saat itu, Didin benar-benar menemukan dunianya. Pesantren yang menerapkan disiplin ketat ini sarat aneka kegiatan seni san pelajaran khat termasuk kurikulum wajib di kelas. Segera saja bakatnya tumbuh. Buku-bukunya penuh coretan gambar dan kaligrafi. Kesan pertama yang dirasakannya adalah ketika tahun 1972 saat duduk di kelas tiga (setingkat Tsanawiyah), ia termasuk tim penulis siswa dengan menggunakan angka-angka Arab. Suatu kehormatan tiada tara. Suatu hari KH. Imam Zarkasyi muncul dan mendekati Didin. “Sirojuddin, la, la, la. Labud an yakuna hakkaza.” Pak Zar memberi isyarat sambil membetulkan posisi tangan Didin.”Itu adalah do’a dan kelak saya merasakan hasilnya,” kata Didin. Melukis dan menulis kaligrafi. Hanya itu yang jadi kegiatan idola Didin di pesantren, membuat para guru dan kawan-kawan mengenalnya. Seorang kawan dari Jakarta bernama Fajar Prana meledeknya: “Hadza huwa brufisur khat.” Itu juga do’a kata Didin.

Tidak puas dengan yang ada, Didin mulai terlibat kegiatan-kegiatan kepanitiaan, pasti kebagian seksi dekorasi. Pernah menangani lima majalah dinding Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sekaligus. Warung dapur dan kafetaria pesantren pun dicoretinya dengan lukisan dan kaligrafinya. Puncaknya tahun 1974, ketika ia mendirikan Sakisda (Sanggar Pelukis Darussalam) dan majalah dinding pertama berbahasa Indonesia bernama Inspirasi Budaya. Karena komik madingnya “Kecelakaan di Dapur Kita” yang mengeritik kekumuhan dapur santri, ia sempat diadili oleh ustadz Zaini Muhayat. Dalam nota pembebasannya disebutkan : Itu adalah karya seni.

Empat tahun belajar khat Naskhi dan Riq’ah di Gontor. Dua tahun sisanya untuk pendalaman yang dirasanya tidak memuaskan, karena saat itu hanya ada satu buku panduan kaligrafi karya Abdul Karim Husain dari Kendal berjudul “Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab.” Buku lainnya adalah tulisan Indah karangan N. Abdul Razaq Muhili yang ditulisnya tahun 1961, itu pun sudah tidak terbit lagi.

Sentimen ketidakpuasan Didin tambah tersulut. Ini yang mendorongnya, di tahun 1975 menjelang akhir studinya di Gontor, bermimpi sekiranya suatu saat mengarang buku-buku kaligrafi dan mendirikan suatu wadah untuk mengembangkan kaligrafi di Tanah Air. Namun, cita-cita itu barulah terwujud 10 tahun kemudian dengan didirikannya Lemka.

Dua tahun menjelang tahun 1975, Didin semakin mengintensifkan kreasinya. Melengkapi kepiawaiannya menggambar pemandangan, luksian anatomi manusia diperdalamnya dari Fuad Fauzi, kawannya dari Bogor. Sedangkan Abdul Kholiq La-Vera dari Surabaya mengajarinya ilmu dekorasi, vignette dan seni letter.

Teknik rupa diperdalamnya sendiri secara seadanya dari poster-poster film lukisan Harry yang ngetrend waktu itu dan cover majalah. Poster raksasanya “Tears of a Criminal” digunakan iklan dalam bahasa Inggris kelas enam hasil sutradara Ya’kub Bukhari dari Jakarta. Poster itu dibuat Didin dengan water colour.

Selain menghabiskan banyak kertas untuk latihan huruf dan lukisan, telunjuknya digores-goreskan ke atas sajadah saat menanti adzan maghrib di masjid pesantren. Didin membayangkan seakan sedang latihan menulis. Ternyata, ulahnya itu adalah teori pendalaman huruf dengan cara membayangkan huruf-huruf itu sendiri seperti dikemukakan oleh pembina kaligrafi Mesir Fauzi Salim Afifi, yang baru dikenal Didin dari bukunya Silsilatu Ta’lim al-Khat al-‘Arabi”Dalil al-Mua’allim yang dibacanya tahun 1995, dua puluh tahun sesudah peristiwa corat-coret fiktif tersebut. Khattat besar Hasyim Muhammad yang populer dengan bukunya Qawaid al-Khat al-‘Arabi pun pernah berlatih menulis ribuan basmalah di pasir pantai dengan telunjuknya. Bila tersapu air, diulang lagi tulisaanya itu, sampai hilang kembali diterpa ombak pantai.

Mungkin sudah suratan takdir, ketika Didin tidak dikabulkan ayahnya masuk ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) di Yogyakarta. Mungkin ayah takut saya jadi murtad,” komentar Didin tentang ayahnya yang selalu berhati-hati itu. Tapi lagi-lagi kegagalannya itu menjadi gerbang keberuntungannya di kemudian hari.

Ketika tahun 1976 akhir masuk kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lagi-lagi Didin menemukan yang dicarinya. Di luar jadwal kuliah, ia bergabung dengan Sanggar Garajas di Bulungan, Jakarta Selatan, selama setahun setengah (1976-1978), untuk memperdalam lukisan. Di sanggar itu dijumpainya ilustrator terkenal Si Jon dan Dimazprass, dan dilihatnya kegiatan-kegiatan seni yang lain seperti seni akting, tari dan baca puisi.

“Jakarta adalah guru. Di Jakarta juga ada segalanya,” kata Didin. Ia sering berlama-lama nongkrong di loakan buku Senen, Rivoli, Tanah Abang atau Pasar Rumput dan Taman Ismail Marzuki dan mendatangi tempat-tempat pameran seperti Balai Budaya, Mitra Budaya, Erasmus Huis, dan Pasar seni ancol. Pameran di hotel-hotel pun diburunya. Diikutinya pula acara-acara baca puisi dan pergelaran drama. Bahkan film-film kolosal bernuansa sejarah di layar-layar tancap misbar alias gerimis bubar dan bioskop-bioskop seputar Ciputat pun ditontonnya. Kebiasaannya membaca komik kumat lagi setelah berada di Jakarta. Sebab, selama 6 tahun di Gontor kesempatan itu sangat langka kecuali dengan mencuri-curi atau hanya membaca komik-komik petualangan Garth atau detektif John Prentice yang dipampang berseri di koran berlangganan pesantren. Komik-komik silat karya Ganes TH, Jiar, Yan Mintaraga, Teguh Santosa dan Man dibongkarnya kembali dari Pasar Senen. Hasil bacaannya jadi bekal pembuatan serial komik keagamaan dan ilustrasi cerpen majalah Panji Masyarakat pimpinan Hamka. Sejak kuliah tahun 1976, Didin bekerja sebagai ilustrator majalah itu, lalu beralih menjadi editor Pustaka Panjimas sampai tahun 1982.

Hobi mengarang dan baca-baca buku cerita, petualangan dan humor di samping buku-buku keagamaan menghasilkan cerpen-cerpen dan karangan ilmiah dan laporan peliputan selama menjadi wartawan Panji Masyarakat (1982-1989). Ia sangat gembira ketika cerpen pertamanya Memilih Raja dan Air Telaga Phrigia yang diterjemahkannya dari Baucis and Philemon dalam buku History of the Greek dimuat majalah anak-anak Kawanku tahun 1977 dan 1981, bahkan yang disebut kedua ini jadi judul utama yang dipampang di sampul mukanya. Artikel tentang kaligrafi sendiri baru ditulisnya di Panji Masyarakat tahun 1983 dengan judul Dari Al-Aqlam Al-Sittah Hingga Lukisan Kaligrafi. Sejak itu meluncur artikel-artikel kaligrafi yang lain.

Selama menjadi mahasiswa (1976-1982), Didin hanya memendam keinginan yang dicita-citakannya. Di Jakarta hanya ada beberapa khattat. Selain sulit dihubungi, mereka juga tidak mudah diajak berserikat membentuk organisasi. Namun saat tersebut adalah masa-masa subur bagi Didin untuk menulis kaligrafi buku di beberapa penerbit di Jakarta. Ia memperoleh cukup uang sehingga berkesempatan membeli banyak buku. Uang juga banyak diperoleh dari menulis kaligrafi di masjid, membuat ilustrasi dan komik, selain cerpen dan artikel. Didin hampir-hampir bekerja sebagai khattat di Penerbit Bulan Bintang, Jakarta dan PT. Al-Maarif, Bandung. Namun keduanya urung diambil, karena masih aktif kuliah. Masih pingin bebas.

Didin juga sempat menikmati kegagalan dalam Sayembara Kaligrafi di MTQ Nasional XII tahun 1981 di Banda Aceh. Namun ia menebusnya dengan untuk pertama kalinya menjadi Dewan Hakim Sayembara Kaligrafi MTq Nasional XIII tahun 1983 di Padang. Di sini ia lebih jauh berkenalan dengan K.H.M. Abdul Razaq Muhili, penulis kaligrafi buku profesional, dan Prof. H.M. Salim Fachry penulis Al-Qur’an Pusaka Indonesia atas titah Presiden Soekarno, yang bertugas sebagai Dewan Hakim dan diakuinya sebagai guru. Saat itulah semenjak di pesawat menuju Padang hingga arena MTQ, Didin tidak henti-hentinya menyampaikan gagasannya untuk membentuk wadah pengembangan kaligrafi. Menanggapi gagasannya itu, Salim Fachry menyambut agak kaget: “Itu sebenarnya yang sejak dulu saya cita-citakan, sejak saya belajar kaligrafi di Mesir. Namun saya tidak punya kader.” Didin dianggapnya sebagai kader yang selama ini dicari-cari.

Dewan Hakim lainnya di MTq tersebut adalah C. Israr, seorang penulis seni Islam, dan H.M. Bachtiar, dosen IAIN Padang yang turut mendorong rencana Didin.

***

Selesai kuliah tahun 1982, Didin sampai ke puncak kegelisahannya. Setahun kemudian (1983), ia diminta mengajar kaligrafi di Fakultas Adab eks almamaternya. Kehormatan itu dilihatnya sebagai peluang, tapi masih kesulitan harus memulai dari mana. Akhirnya, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) diproklamirkan 20 Juli 1985 dan komponen pengurusnya diambil langsung dari para mahasiswa semester II yang diasuhnya. “Semuanya serba baru dan darurat. Tidak ada referensi apapun,” kata Didin. Saat itu pembinaan kaligrafi di Indonesia berjalan alamiah, kecuali di beberapa pesantren seperti Gontor dan cabang-cabangnya yang menyangkut kaligrafi ke dalam kurikulum. Belum ada sanggar yang aktif mengajarkan kaligrafi secara intensif. Sebaliknya seni lukis kaligrafi yang dimunculkan para perupa sejak akhir tahun 1970-an mulai menggeliat. Para khattat di pesantren-pesantren terus saja berkutat dengan goresan hitam putihnya seakan dikalahkan oleh para pelukis yang lebih piawai dan kreatif menyulap kaligrafi jadi ladang usaha. Para khattat murni yang ketinggalan ini memprihatinkan Didin. Ia ingin mengajak mereka melangkah lebih maju. Menurut bayangannya, jika para khattat ini digerakkan, potensi mereka yang dahsyat akan muncul. “Saya ingin mereka ikut makmur. Merekalah yang punya tulisan bagus, tapi mereka tidak dapat apa-apa dari karya mereka yang kurang diolah secara artistik,“ komentar pria pelukis kaligrafi yang berulang-ulang jadi jui kaligrafi MTQ Nasional dan Peraduan Menulis Khat ASEAN ini.

Di awal tahun 1980-an, asap perseteruan antara kubu kaligrafer murni dan pelukis kaligrafi masih mengepul. Ada kalanya, ketegangan itu sampai ke tingkat siaga I. Didin yang saat itu punya pergaulan luas dengan para khattat dan pelukis sekaligus tidak memilih pro para kaligrafer murni tempat dia bertolak yang sering kelewat reaktif terhadap para pelukis yang mereka tuding banyak menyalahi kaedah huruf. Ia bahkan berkampanye agar para khattat belajar kepada para pelukis yang lebih menguasai teknik rupa. Kampanyenya yang pertama ia kumandangkan dalam ceramah seninya tahun 1985 di Gedung Seni Sono Yogyakarta dan Masjid Agung Semarang tahun 1986.

Program pertama Lemka yang didirikannya adalah pembukaan kursus kaligrafi intensif akhir tahun 1985 di IAIN Jakarta dengan tahap-tahap kelas Basic (Naskhi), Secondary (Tsulus dan Riq’ah), Intermediate (Diwani dan Farisi), Post Intermediate (Tatawarna) dan kelas Advance yang direncanakan untuk tingkat profesional. Kursus ini oleh Didin dijadikan garda terdepan pembinaan kaligrafi di Lemka. Dengan mengambil metode demonstratif pelajaran diberikan dari dasar sesuai dengan slogan lembaga ini yaitu Lemka Membina dari Alif.

Selain mendorong pembukaan kursus kaligrafi di beberapa tempat di Jakarta, Didin juga berkeliling memberikan training di Bandung, Jambi, Bandar Lampung, Padang, Pekanbaru, Banda Aceh, Yogyakarta, Surabaya, Palu, Palangkaraya. Tahun 2000 ia diundang Pemerintah Brunei Darussalam untuk memberikan briefing tiga hari terhadap para penulis kaligrafi negara petro dollat tersebut.

Jalan yang ditempuh untuk mempercepat sosialisasi gagasannya adalah dengan menulis buku-buku kaligrafi, dimulai dengan buku Seni Kaligrafi Islam (1985) dilanjutkan dengan puluhan buku pelajaran dan diktat kursus lainnya yang dibaca anak-anak TK sampai para mahasiswa perguruan tinggi. Melalui buku-buku dan tulisan-tulisannya di media, pemenang Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN tahun 1987 ini berhasil mendorong didirikannya puluhan sanggar kaligrafi di pelbagai wilayah Indonesia. Didin menawarkan konsep pengembangan kaligrafi via sanggar yang dibagi kepada departemen-departemen dengan kegiatan-kegiatan kursus atau pelatihan skill, pameran, apresiasi, diskusi wawasan budaya seni dan kewirausahaan untuk membuka akses pasar peserta sanggar.

Hasratnya yang menggebu untuk memasyarakatkan kaligrafi lebih cepat nampak pada ajakannya untuk menyelenggarakan dialog pada momen-momen penting seperti lomba kaligrafi yang melibatkan tenaganya. Dalam setiap MTQ, Didin selalu spontan selalu membuat acara dialog dengan peserta lomba, pelatih dan official kaligrafi. Ia memancing keluhan dan berbagai usul peserta dialog lalu menunjukkan jalan keluarnya. “Dialog merupakan kesempatan untuk menampung segala aspirasi dan menyumbangkan pemikiran, cara dan teknik pembinaan,” katanya.

Mengapa dialog? Didin mengakui dirinya terpengaruh oleh filosuf besar Socrates yang mengembangkan metode dialog untuk menambah ilmu dan meningkatkan kebijaksaannya. Selain, tentu saja untuk meningkatkan ilmu pengetahuan masyarakat di sekitarnya. Dengan setiap hari berkeling di alun-alun kota Athena, Socrates menanyai siapa saja orang yang dijumpainya. Ia bahkan serng bertanya dengan berlagak bodoh untuk mendorong orang berbicara. Menurut Didin, menanyai orang dengan cara berkelakar akan menghasilkan sesuatu tanpa menegangkan.

Kemanapun pergi dan ketemu siapapun, Didin berbicara soal kaligrafi. Kepada para khattat ditanyakannya tentang kemajuan hasil latihannya. Para pelukis kawan-kawannyajuga ditanya seputar hasil usaha dari penjualan karya mereka. Ia juga membalas ratusan surat yangbersonsultasi kaligrafi kepadanya. Baginya cara-cara itu adalah bagian dari metode pengembangan. Tiada hari tanpa diskusi. Karena diskusi akan memberikan pengertian-pengertian dan kesadaran untuk maju,” kilahnya. Maka saat melawat ke beberapa daerah untuk melatih, ia mendiskusikan program pembinaan di daerah itu lalu diproklamirkannya sebuah sanggar kaligrafi yang baru.

Segala usahanya diarahkan kepada obsesinya untuk menjadikan Indonesia sebagai ladang pengembangan seni kaligrafi Islam, menyusul negara-negara seperti Iran, Irak, Turki dan Mesir yang sudah berjalan duluan. Potensi ke arah sana, menurut pengamatan pria penulis Al-qur’an Berwajah Puisi bersama H.B. Jassin yang menghebohkan ini sangat mungkin, karena SDM Indonesia luar biasa besar. Minat generasi muda terhadap kaligrafi di Indonesia dengan sense of art nya yang tinggi telah melebihi kesemarakan negara-negara yang jadi mbahnya kaligrafi tersebut. Saat melawat le Iran untuk mengikuti The 9th International Exhibition of The Holy Qur’an di bulan Ramadhan 2001, Didin yang menjadi ketua delegasi Indonesia bersama Ilham Khoiri dari ITB melihat respon publik Iran terhadap kaligrafi terutama Ta’liq, Nasta’liq dan Shikasteh luar biasa. “Namun kekayaan art seniman kita lebih unggul dari mereka,” katanya.

Model pembinaan ditempuh pula dengan membangkitkan rasa senang terhadap kaligrafi. Maka seni kaligrafi harus bernuansa rekreatif dan metode pengajarannya harus mengandung faktor novelty. Untuk itu Didin membuka program yang dinamakannya safari seni untuk kegiatan-kegiatan yang dibinanya edngan kurikulum melukis kaligrafi untuk anak-anak dan kegiatan demonstrasi massal kaligrafi di tempat-tempat rekerasi yang terbuka, temu tokoh seni dan kunjungan ke tempat-tempat pameran dan galeri seni rupa.

Hasil-hasil pencapaiannya tetap saja tidak memuaskannya. Seakan kehausan, Didin terus mencari jalan lain utnuk meluluskan pemikirannya yang menurut pengakuannya sudah bertumpuk. Ia menginginkan suatu laboratorium untuk pembinaan dan pusat studi kaligrafi di Indonesia. Ia juga mempikan sebuah Akademi Seni Islam.

Maka pada tanggal 9 Agustus 1998 didirikannya Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) di Sukabumi yang merupakan tempat ketujuh setelah enam kali bersama kader-kader binaannya gagal mencari lokasi yang tepat di kawasan Jabodetabek. Pesantren seni model baru yang pertama di Indonesia ini membina para kader daerah yang diplot untuk menjadi pelopor-pelopor pengembangan kaligrafi di seluruh nusantara.

Tentu saja Didin yang memimpin pesantren ini dan kader-kadernya cukup repot, karena harus bolak-balik1 50 km Jakarta-Sukabumi untuk mengontrol pesantrennya. “Lebih meletihkan daripada jalan kaki 4 km untuk mengaji di Kyai Jemod dulu,” kenang Didin tentang masa kanak-kanaknya.

Dalam jepitan kesibukannya mengurus danmenjadi imam masjid As-Salam di kawasan Ciputat, Didin yang aktif menjadi perumus lomba kaligrafi di MTQ menyempatkan berkarya. Ia berhasil menulis 4 mushaf Al-Qur’an dan dengan mushaf terakhirnya Al-Qur’an berwajah puisi ia bersama istri dan ibunya naik haji tahun 1994. Ratusan lukisan dihasilkannya mencakup puluhan set kalender kaligrafi yang paling banyak menyevar di Indonesia. Namun, lagi-lagi semuanya dihubungkan dengan perjuangannya, seperti dikatakannya: “Saya sebarkan karya-karya itu untuk dijadikan contoh dan sebagai bukti kreativitas saya. Saya tidak mau hanya mengecap. Saya mengajak anak-anak muda melukis kaligrafi bersama-sama dengan saya. Saya senang jika mereka senang.”

Yang perlu dicermati adalah tentang sosok karyanya. Ia tidak hanya menampilkan gaya-gaya murni yang ditekuninya, tetapi dengan keberaniannya terus bereksperimen mengolah huruf. Bertentangan dengan pendapat umumnya para khattat agar gaya kaligrafi harus murni. Didin mengatakan tidak. Menurutnya, pencarian mazhab belum selesai. Perlu dicari gaya-gaya baru. Sebab sejarah kaligrafi sendiri adalah sejarah perburuan mazhab-mazhab. Baginya soal gaya adalah soal ijtihadiyah. Karenanya, kita juga harus punya gaya khas Indonesia. Didin memelopori penamaan gaya-gaya kaligrafi dengan sebutan Syaifulu, Amani, Akrami, Hendrawi, Yetmoni, Hattai dan Pirousi untuk karya-karya khas pelukis-pelukis seperti Syaiful Adnan, Amang Rahman, Said Akram, Hendra Buana, Yetmon Amier, Hatta Hambali dan A.D. Pirous.

Didin mengarang banyak buku dan diktat kaligrafi mengaku terkesan oleh sikap kaligrafer Tunisia Naja Al-Mahdawi yang beruji coba huruf 13 jam perhari. Al-Mahdawi yang sering melukis bersama dengan perupa Jerman Hwifinkel sangat menguasai kaligrafi murni, namun juga piawai mengolah gaya-gaya kontemporer melalui uji cobanya yang oleh Charbal Dagir disebut “Al-la’bah al-majnunah” (permainan gila). Yang lebih menarik Didin adalah prinsip Al-Mahdawi bahwa huruf baginya adalah materi hidup yang memebri kebebasan sepenuhnya untuk diolah setiap saat. Untuk itu Didin berprinsip bahwa seniman kaligrafi harus menguasai gaya-gaya kaligrafi murrni seperti Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Kufi dan Riq’ah, tetapi harus mengembangkan pula gaya-gaya kontemporer yang diolah dari huruf-huruf yang telah dikuasainya. Cara itu pula yang diajarkan “sang guru kaligrafi seumur hidup ini” kepada kader-kader asuhannya dan ia juga berhasil mengumpulkan karya-karya uji cobanya dalam buku Kaligrafi Hitam Putih D. Sirojuddin AR.

Karya dan gagasan besar Didin ini tetap saja diakuinya terlalu kecil. Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammas saw bahwa Jika terjadi kiamat dan kamu masih sempat menanam sebutir benih, maka tanam saja, karena itu pun ada pahalanya.” Atau seperti kisah seseorang yang melempar-lemparkan binatang-binatang laut ke air sepanjang pesisir pantai di malam hari. Ketika ditanya, Apakah itu? Orang itu menjawab bahwa binatang-binatang itu akan mati manakala fajar menyingsing. Jadi ia berusaha menyelamatkan mereka. Saat ditanya lagi, Bagaimana mungkin, sebab pantai ini terlalu panjang, sedangkan binatang-binantang laut yang terdampar jumlahnya ribuan?”. Ia menjawab tenang: “Itu betul, saya hanya berjuang semaksimal yang bisa saya lakukan. Jika saya berhasil menyelamatkan beberapa ekor saja, itu pun sudah Alhamdulillah.” Didin merasakan bahwa usahanya masih jauh dari cukup, mungkin perlu dilipatgandakan seribu kali lagi. Ia hanya bergembira karena telah memulai.

Tetapi dari mana ia dapat memobilisasi komunitas kaligrafer ini? Didin hanya menjawab bahwa modalnya itu pun dari ayahnya. Ia melihat bagaimana ayahnya mengajar ngaji dengan tekun, menjadi imam di surau, dan bagaimana ia harus ronda setiap malam rakyatnya saat jadi kepala desa. Tetapi kesukaannya membaca lelakon para petualang, pelopor, dan penemu memberinya pengaruh sangat mendalam. Nabi Muhammad saw adalah yang patut dijadikan contoh dengan menghimpun pengikutnya dari satu orang, tiga, ratusan, hingga ribuan orang.

Ini adalah kisah perjalanan Didin yang dituturkan kepada kawan-kawannya sepenggal demi sepenggal. Banyak pula yang dilansir media massa. Ia ingin terus bergerak dan menempuh perjalanan yang jauh, seakan belum tahu ujungnya.

***

Adapun biar lebih sistematis, rincian tentang riwayat perjalanannya terkait kaligrafi dapat dilihat sebagai berikut :

Nama lengkap : Drs. H. Didin Sirojuddin Abdul Razaq, M.Ag.

Tempat/tgl lahir : Kuningan, 15 Juli 1957.

Pekerjaan utama : Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

Alamat : 1. Kantor

Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda 95, Ciputat, Jakarta Selatan 15412

Telp.(021) 7443329, Fax (021) 7402982.

2. Rumah :

Jl. Semanggi I/26, Cempaka Putih, Ciputat, Jakarta Selatan

15412. Telp./Fax. (021) 7496279 Hp. 08128414001.

KIPRAH DI BIDANG KALIGRAFI

1. Pendidikan

Belajar kaligrafi di Pondok Modern Gontor, Jawa Timur (1969-1975), dengan dukungan bakat melukis sejak sebelum masuk sekolah.

2. Jabatan

  1. Pendiri dan Ketua Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka), 1985 sampai sekarang di Ciputat.
  2. Pendiri dan Pimpinan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka), 1998 sampai sekarang di Sukabumi, Jawa Barat.

3. Kejuaraan

Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam, 1987.

4. Penjurian

Hampir dalam setiap event penting lomba kaligrafi mulai tingkat kota/kabupaten, propinsi, nasional dan ASEAN selalu terlibat dalam penjurian. Diantaranya :

a. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-13, 1983 di Padang.

b. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-15, 1988 di Bandar Lampung.

c. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-16, 1991 di Yogyakarta.

d. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-17, 1994 di Pekan Baru.

e. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-18, 1997 di Jambi.

f. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-19, 2000 di Palu.

g. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-20, 2003 di Palangkaraya.

h. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-21, 2006 di Kendari.

i. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-22, 2008 di Banten.

j. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Nasional ke-23, 2010 di Bengkulu.

k. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-8, 2003 di Bandung.

l. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-9. 2005 di Pontianak.

m. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-10, 2007 di Palembang

n. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Mahasiswa Nasional ke-12, 2010 di Meulaboh.

o. Dewan Hakim Kaligrafi Pospenas di Medan Sumatera Utara, 2004.

p. Dewan Hakim Kaligrafi Pospenas di Samarinda Kalimantan Timur, 2007.

q. Koordinator Juri Sayembara Kaligrafi Festival Istiqlal ke-1, 1991, Jakarta.

r. Koordinator Juri Sayembara Kaligrafi Festival Istiqlal ke-2, 1995, Jakarta.

s. Koordinator Juri Sayembara Kaligrafi Hari Anak Nasional, 1990-1998, Jakarta

t. Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Propinsi DKU Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jambi, Riau dan beberapa kabupaten di Jawa Barat dan Banten.

u. Koordinator Juri Sayembara Melukis Kaligrafi SCTV, 1995 Jakarta.

v. Dewan Hakim Lomba Kaligrafi Festival Anak Saleh II, 1994 dan IV, 1999, Jakarta.

w. Koordinator Juri Lomba Desain Cover Mushaf Al-Qur’an Departemen agama RI, Jakarta.

x. Koordinator Juri Lomba Kaligrafi Festival Seni dan Budaya Nusantara di Baitul Qur’an TMII, 2003 Jakarta.

y. Dewan Hakim Peraduan Menulis Khat ASEAN, 1998 Brunei Darussalam.

z. Dewan Hakim Peraduan Khat ASEAn 2002 Brunei Darussalam.

5. Pembinaan

Beberapa kali memberikan pembinaan kaligrafi di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumateran Utara, Riau, Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Nangroe Aceh Darussalam, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat. Tahun 1999 memberikan pembinaan dalam program pengembangan kaligrafi di Brunei Darussalam.

6. Pameran

Mengikuti pameran lukisan Islami di Yogyakarta, Aceh, Pekanbaru, Jambi, Kudus, Cirebon, Sukabumi, dan di Ibukota Jakarta (antara lain di Hotel Mandarin, Hotel Hilton, Hotel Gran Mulia, Taman Ismail Marzuki, Gedung Seni Rupa Depdikbud/Galeri Nasional Indonesia, gedung World Trade Center, Menara Kebon sirih, Taman Mini Indonesia Indah, Pasar seni Jaya Ancol, Masjid Istiqlal dan beberapa kampus perguruan tinggi di Jakarta), dan Teheran Iran.

7. Buku dan Diktat Karangan

a. Seni Kaligrafi Islam, 1985.

b. Pelajaran Kaligrafi Islam (2 Jilid), 1985.

c. Belajar Kaligrafi (7 Jilid), 1991.

d. Dinamika Kaligrafi Islam (terjemahan), 1992.

e. Belajar Cepat Menulis Al-Qur’an (4 Jilid), 1993.

f. Mewarnai Kaligrafi (8 Jilid), 1993.

g. Ketrampilan Menulis Kaligrafi bagi Dantri Pondok Pesantren, 2001.

h. Cara Mengajar Kaligrafi (terjemahan), 2002.

i. Kaligrafi Hitam Putih D. Sirojuddin AR, 2001.

j. Pak Didin Menabur Ombak Kaligrafi, 2002.

k. Nuansa Kaligrafi Islam: Kumpulan Karangan, 2002.

l. Latihan Melukis Kaligrafi dari Hitam Putih ke Warna-warna, 2002.

m. Desain Pelajaran Kursus Kaligrafi (4 Jilid), 1986.

n. Tentang Lemka dan Desain Pengembangan Kaligrafi Islam di Indonesia, 1991

o. Corat-Coret Bukan Asal Coret, 1993.

p. Gores Kalam: Butir-butir Pemikiran Sekitar Pengembangan Sei Kaligrafi Islam di Indonesia (artikel koran dan majalah 1984-1994).

q. Desain Latihan Mewarnai Kursus Kaligrafi Terpadu Lemka, 1996.

r. Asah-asuh Huruf: Himpunan Karya Master Bahan Latihan Pengajar Lemka, 1996.

s. Kaligrafi Arab: Peralihan dari Kufi ke Naskhi, 1996.

t. Membina Kaligrafi Gaya Lemka, 1996.

u. Persiapan Menuju MTQ: Kiat Latihan Para Khattat Peserta MTQ, 1996.

v. Khat Naskhi Untuk Kebutuhan Primer Baca Tulis, 1997.

w. Seni Kaligrafi Islamdi Indonesia Angkatan Perangkatan, 1998.

x. Tafsir Al-Qalam, 1999.

y. Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam (Ensiklopesi Kaligrafi Islam), 2007.

Selain itu juga menulis di beberapa jurnal dan media massa, antara lain :

Tahun 1985-1990

  1. “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an Terbentuk” dalam Majalah Panji Masyarakat no. 466, Jakarta 1985.
  2. "D. Sirojuddin AR Seniman Kaligrafi” dalam Jurnal Institut, Jakarta: Semester Genap 1985.
  3. “Pameran, Musabaqah dan Sarasehan Kaligrafi Islam” dalam Harian Kompas, Jakarta: Selasa, 10 Februari 1987.
  4. “Perlu Intervensi Lebih Keras” dalam Majalah Amanah no. 15, Jakarta: 30 Januari-12 Februari 1987.
  5. “200 Karya Seni Kaligrafi Dipamerkan di Istiqlal” dalam Harian Bisnis Indonesia, Jakarta: Sabtu, 7 Februari 1987.

6. “Mengenal Lemka” dalam Jurnal Institut, Jakarta: Juli 1987.

  1. “Kaligrafi Sekali Lagi: Mampukah Melahirkan Corak yang Benar Khas Indonesia” dalam Mingguan Minggu Pagi, Yogyakarta: 6-12 September 1987.
  2. “Pameran Kaligrafi Maulid 1408” dalam Majalah Panji Masyarakat no 559, Jakarta: 10-19 Rabiul Akhir 1408/1-10 Desember 1987.

Tahun 1991-1995

  1. “Agama: Alquran Berbaju Indonesia” dalam Majalah Editor no. 25, Jakarta: 2 Maret 1991“Jasa Ibnu Muqlah dan Bawwab” dalam Majalah Editor no. 25, Jakarta: 2 Maret 1991.
  2. “Indonesia Masih Miskin Lembaga Pengembangan Kaligrafi Arab” dalam Harian Terbit, Jakarta: Sabtu, 4 Mei 1991.
  3. “Sirajudin, Kaligrafi Masuk Kurikulum” dalam Harian Terbit, Jakarta: Selasa, 7 Mei 1991.
  4. “Tanpa Aturan, Kaligrafi Berkembang” dalam Harian Pelita, Jakarta: Jumat, 18 Oktober 1991/9 Rabiul Akhir 1412 H.
  5. “Kaligrafi Amatiran Diminati Pengunjung” dalam Harian Pelita, Jakarta: Rabu, 23 Oktober 1991/14 Rabiul Akhir 1412 H.
  6. “Dipamerkan, 12 Unggulan Kaligrafi” dalam Harian Pelita, Jakarta: Jumat, 25 Oktober 1991/16 Rabiul Akhir 1412 H.
  7. “Sayembara Kaligrafi Rangsang Minat Baca-tulis Alquran” dalam Harian Berita Buana, Jakarta: Jumat, 25 Oktober 1991.
  8. “Tua Muda Adu Kreasi Lomba Kaligrafi, Wanita Belum Berani Kalahkan Pria” dalam Harian Terbit, Jakarta: Selasa, 29 Oktober 1991.
  9. “D. Sirojuddin AR, Seniman Kaligrafi, Merasa Lebih Dikenal Lewat Festival Istiqlal” dalam Harian Pos Kota, Jakarta: Minggu, 17 Nopember 1991.
  10. “Menurut Sirojuddin AR, Dosen IAIN Jakarta: Penulisan Kaligrafi Murni Kekurangan Peminat” dalam Harian Pos Kota, Jakarta: 13 Desember 1991.
  11. “D. Sirojuddin AR, Ahli Kaligrafi Arab: Bentuk Puitisasi Alquran HB Jassin tak Menyalahi Kaedah Mushaf Utsmani” dalam Harian Terbit, Jakarta: Jumat, 22 Januari 1993.
  12. “Lemka Mempercepat Pemasyarakatan Kaligrafi” dalam Harian Pelita, Jakarta: Selasa, 6 April 1993/13 Syawal 1413.
  13. “Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi” dalam Harian Media Indonesia, Jakarta: Minggu, 29 Agustus 1993.
  14. “Sosok Didin Sirojuddin AR Kaligrafer Pendidik yang Rendah Hati” dalam Harian Media Indonesia, Jakarta: Minggu, 12 September 1993.
  15. “Siradjuddin AR Mengasah Pena Surga” dalam Jurnal Hikmah, Jakarta: Minggu, I Desember 1993 M.
  16. “Bidang Khatil Quran Utamakan Kaedah Tulisan” dalam Harian Riau Pos, Pekanbaru: 3 Pebruari 1994.
  17. “Gelar Kaligrafi di Hilton: Mencipta Jagat Raya dari Bulu Ayam” dalam Harian Republika, Jakarta: Rabu, 23 Pebruari 1994.
  18. “Lemka IAIN Jakarta Adakan Lomba Kaligrafi TK se-Riau” dalam Harian Riau Pos, Pekanbaru: Rabu, 20 Juli 1994.
  19. “Dari Lomba Mewarnai Kaligrafi Anak-anak TK, TKA, dan TPA se-Riau: Perangsang Agar Pembinaan Dimulai dari Dasar” dalam Harian Riau Pos, Pekanbaru: Jumat, 22 Juli 1994.
  20. “Wajah Seni Lukis Islami: Melukis Manusia, Mengapa Tidak?” dalam Harian Republika, Jakarta: Kamis, 11 Agustus 1994.
  21. “Pendiri Lembaga Kaligrafi Indonesia Drs. D. Sirojuddin AR: Memberi Huruf Alif Saja, Kemenangan Bagi Dakwah Islam” dalam Majalah Pembina no. 172, Jakarta: September 1994.
  22. “Lembaga Kaligrafi Alquran Menumbuhkan Kecintaan Masyarakat Terhadap Seni Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 4 November 1994.
  23. “Menghidupkan Tradisi Suci” dalam Majalah Panji Masyarakat no. 818, Jakarta: 11-20 Pebruari 1995.
  24. “Minat pada Lukis Kaligrafi Meningkat” dalam Harian Kompas, Jakarta: Jumat, 19 Mei 1995.
  25. “A.D. Pirous: Seni Kaligrafi Kian Diminati” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 19 Mei 1995.
  26. “Bocah dari Surabaya Menangkan Lomba Kaligrafi Islami SCTV” dalam Harian Merdeka, Jakarta: Jumat Pon, 19 Mei 1995/19 Dzulhijjah 1415 H.

27. “Ragam: Potensi Kaligrafi” dalam Majalah Gatra, Jakarta: 3 Juni 1995.

  1. “Menyimak Pesan Islam Lewat Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 30 Juni 1995.
  2. "Lukisan-lukisan Islami yang Memberontak” dalam Harian Republika, Jakarta: Minggu, 2 Juli 1995.
  3. “Menyambut Festival Istiqlal ke-II: Kaligrafi Itu Indah” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 14 Juli 1995.
  4. “Kaligrafi dan Mushaf Alquran Ibarat Dua Sisi Mata Uang” dalam Harian Republika, Jakarta: 14 Juli 1995.
  5. “Sirajuddin AR Menangguk Rizki dari Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 14 Juli 1995.
  6. “Sastrawan HB Jassin Luncurkan Buku Kontroversi Al-Qur’an Berwajah puisi” dalam Harian Kompas, Jakarta: Selasa 1 Agustus 1995.
  7. “Ditandai Peluncuran Buku Terbaru, Bukan Tokoh-tokoh Sastra Hadiri Ulang Tahun Jassin” dalam Harian Merdeka, Jakarta: Selasa Pahing, 1 Agustus 1995/4 Rabiulawal 1414 H.
  8. “HB Jassin Menunggu Rekomendasi Depag” dalam Harian Republika, Jakarta: Selasa, 1 Agustus 1995.
  9. “Merayakan HUT-nya Yang Ke-78 HB Jassin Meluncurkan Buku” dalam Harian Suara Karya, Jakarta: Selasa, 1 Agustus 1995.
  10. “Diluncurkan, Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi” dalam Harian Media Indonesia, Jakarta: Selasa, 1 Agustus 1995.
  11. “Pena Mas Untuk Seniman Kaligrafi” dalam Tabloid Hikmah, Jakarta: Minggu V September 1995/4 Jumadil Awal.
  12. “Studium General HMI KOMFAKSYA Bersama HB Yassin dan D. Sirojuddin AR: Salah Paham Terhadap Al-Qur’an Berwajah Puisi” dalam Tabloid Dialogia, Jakarta: Vol.I/X/95.
  13. “Hari Minggu Besok, Demo Akbar Para Penulis Indah-Kaligrafi” dalam Harian Pelita, Jakarta: Sabtu-Minggu, 14-15 Oktober 1995/19-20 Jumadil Awal 1416 H.
  14. “Demonstrasi Kaligrafi Akbar” dalam Harian Republika, Jakarta: Senin, 16 Oktober 1995.
  15. “Al-Quran Gagasan HB Jassin Tetap Berdasarkan Kaidah Mushaf Ustmani” dalam Harian Pelita, Jakarta: Senin, 16 Oktober 1995/21 Jumadil Awal 1416 H.
  16. “Alquran Mushaf Istiqlal, Mushaf Berwajah Indonesia” dalam Majalah Ummat no. 8, Jakarta: 16 Oktober 1995/21 Jumadil Awal 1416 H.
  17. “Pemenang Sayembara Kaligrafi Terima Hadiah, Ketua Umum FI-II Mar’ie Muhammad Resmikan Sanggar Kaligrafi se-Indonesia” dalam Harian Pelita, Jakarta: 17 Oktober 1995.

45. “Lemka dan Dunianya” dalam Majalah Estafet, Jakarta: Oktober 1995.

  1. “Kaligrafi Islam Indonesia Di Bawah Bayang-bayang Pendahulu” dalam Harian Kompas, Jakarta: 19 Oktober 1995.
  2. “Al-Qur’an Karya HB Jassin Tidak Ikut Dipamerkan” dalam Harian Pelita, Jakarta: 21 Oktober 1995.
  3. “Seni Lukis dalam Puisi Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Minggu, 29 Oktober 1995.
  4. “27 Kaligrafer Muda Profesional Berdemonstrasi, Al-Qur’anul Karim Berwajah Puisi Diluncurkan” dalam Harian Pelita, Jakarta: 30 Oktober 1995.
  5. “Membina Potensi Dunia” dalam Buletin Gores Kalam no. 9, Jakarta: Maret 1996.

Tahun 1996-2000

  1. “Tawaran Nilai Baru Seni Lukis Islami” dalam Harian Republika, Jakarta: Sabtu, 12 Oktober 1996.
  2. “Pesantren Kaligrafi Alquran: Sebuah Kado Ulang Tahun” dalam Buletin Gores Kalam no. 10, Jakarta: Nopember 1996.
  3. “Melacak Seni Kaligrafi di Indonesia” dalam Harian Suara Merdeka, Semarang: Jumat, 24 Januari 1997.
  4. “Syaiful Adnan: Saya Dianggap Pemberontak” dalam Harian Suara Merdeka, Semarang: Jumat, 24 Januari 1997.
  5. “Pesantren Kaligrafi Alquran Tonggak Pembinaan Seni Kaligrafi”dalam Harian Republika, Jakarta: Jumat, 14 Februari 1997.
  6. “Lemka Jakarta Adakan Dialog Seni Kaligrafi” dalam Harian Independent, Jambi: Sabtu, 12 Juli 1997.
  7. “Lomba Khat Dekorasi Makin Seru” dalam Harian Pikiran Rakyat, Bandung: 13 Juli 1997.
  8. “Sirojuddin: Lemka Harapkan RI Ikut Lomba Kaligrafi di Turki” dalam Harian Sriwijaya Pos, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  9. “Indonesia Siapkan Kafilah Ikuti MKQ di Turki” dalam Harian Independent, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  10. “Mutu Kaligrafi di MTQ Kian Meningkat” dalam Harian Republika, Jakarta: Senin, 14 Juli 1997.
  11. “Jambi Agreement Diharapkan Memacu Perkembangan Kaligrafi” dalam Harian Independent, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  12. “Kaligrafi Diusulkan Jadi Pelajaran Sekolah Formal” dalam Harian Sumatera Ekspres, Jambi: Senin, 14 Juli 1997.
  13. “Diusulkan Kaligrafi Masuk Kurikulum Sekolah” dalam Harian Kompas, Jakarta: 14 Juli 1997.
  14. “Disiapkan Kafilah Khattil Alquran Berlomba di Turki” dalam Harian Sumatera Ekspres, Jambi: 15 Juli 1997.
  15. “D. Sirojuddin AR Di Depan Kesempurnaan Wahyu” dalam Lembar Khas Panji Masyarakat no. 39, Jakarta: 13 Januari 1999.
  16. “Bintang Zaman: Dialah Nabinya Kaligrafi” dalam Lembaran Khas Panji Masyarakat no. 49, Jakarta: 24 Maret 1999.
  17. “Seni Kaligrafi, Keindahan Goresan Huruf” dalam Tabloid Media Ka’bah ed. 9, Jakarta: 20 Juli 1999 (7 Rabiul tsani 1420 H).
  18. “Kalau Seniman Bikin Pesantren” dalam Majalah Panji Masyarakat no. 19, Jakarta: 25 Agustus 1999.
  19. “Lemka Akan Segera Pamerkan Lukisan Kaligrafi” dalam Jurnal Progresif ed. 5, Jakarta: 24 Juli-4 Agustus 2000.
  20. “Lemka: Bukan Sekedar Mencetak Juru Tulis” dalam Majalah Mimbar no. 03, Jakarta: Mei-Juni 2000.
  21. “Sirojuddin AR Seperti Arus Air” dalam Majalah Mimbar no. 03, Jakarta: Mei-Juni 2000.
  22. “Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an LEMKA Mencetak Kader Pelukis dan Penulis Handal” dalam Jurnal Progresif no. 06, Jakarta: 8-18 Agustus 2000.

Tahun 2001-2005

  1. “Banyak Kolektor Kaligrafi dari Non Muslim” dalam Tabloid Jurnal Islam no. 29, Jakarta: 8-14 Dzulqa’dah 1421 H/2-8 Februari 2001.
  2. “Kaligrafi: Wawancara Dengan Drs. H.D. Sirojuddin AR, MAg, Ketua Dewan Hakim Kaligrafi” dalam Tabloid Pers Santri, Ma’had Al-Zaytun Indramayu: Oktober 2001.
  3. “Dari Arena Pospenas I: Pesantren Tak Cuma Mencetak Ulama” dalam Harian Republika, Jakarta: 2 November 2001.
  4. “Pesantren Kaligrafi, Sukabumi: Mendedah Kalamullah, Mengasah Akidah” dalam Majalah Forum Keadilan no. 37, Jakarta: 30 Desember 2001.
  5. “Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka” dalam Majalah Hidayah ed. 6, Jakarta: Syawal 1422/Januari 2002.
  6. “Catatan Perjalanan: Menengok Pameran Internasional ke-IX Holly Qur’an di Teheran Iran Seri 1” dalam Majalah Hidayah ed. 7, Jakarta: Zulqaidah 1422/Februari 2002.
  7. “Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka: Mencetak Santri Seniman” dalam Majalah Suara Hidayatullah no. 11, Jakarta: Maret 2002.
  8. “Catatan Perjalanan: Menengok Pameran Internasional ke-IX Holly Qur’an di Teheran Iran Seri 2” dalam Majalah Hidayah ed. 8, Jakarta: Dzulhijjah 1422/Maret 2002.
  9. “Membumikan Pesan Ilahi Melalui Kaligrafi” dalam Harian Republika, Jakarta: Minggu, 17 Maret 2002.
  10. “D Sirojuddin AR, Direktur Lembaga Kaligrafi Al Quran (LEMKA): Kita Siap Jihad Melawan Mereka…” dalam Tabloid Jurnal Islam no. 105, Jakarta: 14-20 Jumadil tsaniyah 1423 H/23-29 Agustus 2002.
  11. “Nuansa Ramadhan: Al-Qur’an dan Hadis Beri Isyarat” dalam Harian Radar Bogor, Bogor: Jumat, 29 November 2002/24 Ramadhan 1423 H.
  12. “Dinas Pendidikan Belum Optimal Kembangkan Seni Kaligrafi” dalam Harian Pakuan, Bogor: Sabtu-Senin, 30 Nopember-1 Desember 2002.
  13. “Kaligrafi Indah Sirojuddin” dalam Harian Republika, Jakarta: Rabu, 7 Mei 2003.
  14. “Lembaga Kaligrafi Al Quran Mencetak Seniman Kaligrafi Al Quran” dalam Majalah Hikmah ed. 03, Jakarta: Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003.
  15. “Drs. H. Didin Sirojuddin AR, MAg Mengembangkan Kaligrafi untuk Dakwah dan Hiburan” dalam Profil Tokoh, Pengusaha & Profesional Muslim Indonesia, Jakarta: Pusat Profil Muslim Indonesia, 2003.
  16. “Didin Sirojuddin AR Rezeki Goresan Kaligrafi” dalam Majalah Gontor ed. 05, Jakarta: Rajab 1424 H/September 2003 M.
  17. “Penulis Kaligrafi Masjid: Indahnya Mengukir Kalam Tuhan” dalam Majalah Hidayah ed. 27, Jakarta: Rajab/Sya’ban 1424 H/Oktober 2003.
  18. “D. Sirojuddin AR: Menulis Quran Membuat Saya Takut” dalam Tabloid Fikri ed. 08, Jakarta: 29 Oktober-04 November 2003.
  19. “D. Sirojuddin AR Menaklukkan Kaligrafer Timteng” dalam Tabloid Fikri ed. 08, Jakarta: 29 Oktober-04 November 2003.
  20. “Perkembangan Seni Kaligrafi Menggembirakan” dalam Harian Pakuan, Bogor: Sabtu-Senin, 6-8 Maret 2004.
  21. “Seniman Usulkan Partai Kaligrafi” dalam Harian Radar Bogor, Bogor: Senin, 8 Maret 2004.
  22. “Seni Kaligrafi Cukup Diminati” dalam Harian Radar Bogor, Bogor: Senin, 8 Maret 2004.
  23. “PP. Kaligrafi Al-Quran Lemka Sukabumi, Jawa Barat, Pesantren Artistik Pencetak Seniman Muslim” dalam Majalah Hikayah ed. 09, Jakarta: Rabiul Awal 1425/Mei 2004.
  24. “Drs. H. Didin Sirajuddin MAg Dakwah bil Kuas Kaisar Kaligrafi” dalam Majalah Hikayah ed. 09, Jakarta: Agustus 2004.
  25. “Sirojuddin Abdul Rojak, Surat Pengantar Haji” dalam Harian Republika, Jakarta: Sabtu, 7 Agustus 2004.
  26. “Daur Didin Sirojuddin AR fi Tanmiyah Al-Khat Al-‘Arabi fi Indunisia” (Skripsi Nurhaeni), Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 10 Agustus 2004.
  27. “Penulis Kaligrafi Menguasai Huruf Arab, Berkeinginan Kuat, dan Berbakat Seni yang Baik” dalam Harian Republika, Jakarta: Rabu: 29 September 2004.
  28. “Lembaga Kaligrafi Al Quran Berdakwah Lewat Huruf” dalam Majalah Wanita Ummi no. 5, Jakarta: September-Oktober 2004/1425 H.
  29. “Belajar Kaligrafi di Lemka” dalam Majalah Bobo, Jakarta: 28 Oktober 2004.
  30. “D. Siradjudin AR Berdakwah Lewat Kaligrafi” dalam Tabloid Dialog Jumat Republika, Jakarta: Jumat, 5 November 2004.
  31. “Laskar Cinta Sensasi Kebablasan Dewa” dalam Harian Republika, Jakarta: Ahad, 17 April 2005.
  32. “Drs. Didin Sirojuddin, MA Pakar Kaligrafi Indonesia: Membumikan Fiqih Seni” dalam Majalah Forum Keadilan No. 03, Jakarta: 15 Mei 2005.

Tahun 2006-2008

  1. 114. “Mengunjungi Pesantren Kaligrafi di Sukabumi (1): Mendalami Ilmu di Tengah Lingkungan yang Masih Alami” dalam Harian Seputar Indonesia Edisi Jawa Barat, Bandung: Senin, 6 Maret 2006.
  2. “Mengunjungi Pesantren Kaligrafi di Sukabumi (2): Pelajaran Banyak Juga Diikuti Para Santri Kalong” dalam Harian Seputar Indonesia Edisi Jawa Barat, Bandung: Selasa, 7 Maret 2006.
  3. “Menyelami Lebih Dalam Kaligrafi Islam” dalam Majalah Peduli Ummat, Bazis Provinsi DKI Jakarta: 21 Juni-20 Juli 2006.
  4. “Empat Kafilah DKI Lolos Final Pada Lomba Kaligrafi” dalam Harian Umum Media Sultra, Kendari: Kamis, 3 Agustus 2006.
  5. ”D. Sirojuddin AR Pakar Kaligrafi dari Kuningan: Bakat Berkat” dalam Majalah Nebula No. 23/Thn.II/2006, Jakarta.
  6. “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) Jakarta Lembaga Para Juara” dalam Majalah Nebula No.23/Thn.II/2006, Jakarta.
  7. “Pesantren Kaligrafi Lemka Tempat Berkarya Seniman Muslim” dalam Tabloid Haji & Umrah Edisi ke-40 Tahun IV, Jakarta: November 2006.
  8. “KH. Didin Sirojuddin Akrab Dengan Keajaiban Huruf Al Quran” dalam Tabloid Khalifah Edisi 48/Th. II/2006, Jakarta: 9-22 November/17 Syawal-1 Dzulqa’dah 1427 H.
  9. “Peran D. Sirojuddin AR, MA dalam Dakwah Melalui Seni Kaligrafi Islam” (Skripsi Enny Nuur Fajriyah), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Pebruari 2007.
  10. “Tadris Kitabah al-Khat fi Majma’ al-Khat al-‘Arabi al-Qur’ani LEMKA fi Ciputat: Al-Dirasah al-Wasfiyah al-Kaifiyah”, (Skripsi Dedi Rusmiadi), Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Negeri Jakarta: 2007.
  11. “The Faculty of Adab and Humanities of UIN Jakarta holds an Islamic Art Fair” dalam UIN News 17th Edition, Jakarta: September 2007/Sha’ban 1428 H.
  12. “Menata Kaligrafi, Menggali Sumber Rezeki” dalam Majalah Seni Rupa Visual Arts Vol. 21, Jakarta: 21 Oktober-November 2007.
  13. “H. Didin Sirojuddin AR Makin Variatif” dalam Harian Fajar Banten, Serang: Sabtu, 21 Juni 2008.
  14. “Sebanyak 180 Peserta Kaligrafi Bersaing Ketat” dalam Harian Fajar Banten, Serang: Sabtu, 21 Juni 2008.
  15. “Berkunjung ke Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka, Kampus Pencetak Seniman Muslim” dalam Majalah Tarbawi ed. 180 th. 9, Jakarta: Jumadats Tsaniyah 1429 H/5 Juni 2008 M.
  16. “Sirojuddin AR: Kaligrafi Kini Makin Berkembang”, dalam Majalah Seni Dwi Mingguan ARTI ed. 007, Jakarta: 04-17 September 2008.
  17. “Menghidupkan Huruf Menuai Makna” dalam Majalah Seni Dwi Mingguan ARTI ed. 007, Jakarta: 04-17 September 2008.

Artikel ini di download from Internet

1 komentar:

uud sholehuddin Adnan mengatakan...

abdi ngiring bingah kana prestasi Ustadz Didin. mugia janten amal sholeh sampeureun jaga di akherat.